LOKERSEMARANG.CO.ID – Di tengah keberagaman etnis di China, terdapat satu kelompok kecil yang menarik perhatian dunia karena praktik keagamaannya yang dianggap tidak lazim. Kelompok ini adalah Muslim Utsul yang menetap di wilayah Sanya, Pulau Hainan. Keberadaan mereka sering kali mengundang perdebatan sekaligus rasa penasaran karena kabar mengenai “kebebasan” mereka dari kewajiban ibadah pokok seperti salat dan puasa.
Secara demografis, jumlah mereka tidak besar jika dibandingkan dengan etnis Hui atau Uighur. Namun, identitas kultural mereka sangat kuat. Fenomena yang menyebutkan bahwa mereka “tidak wajib” menjalankan rukun Islam sebenarnya memerlukan tinjauan lebih mendalam dari sisi sejarah, sosiologi, dan proses asimilasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Akar Sejarah: Eksodus dari Kerajaan Cham
Muslim Utsul bukanlah penduduk asli China dalam arti etnis Han. Nenek moyang mereka merupakan keturunan dari imigran Muslim Cham yang berasal dari wilayah yang sekarang menjadi Vietnam dan Kamboja. Pada abad ke-10 hingga abad ke-15, terjadi eksodus besar-besaran akibat peperangan di wilayah asal mereka, yang akhirnya membawa kelompok ini berlabuh di pesisir selatan Hainan.
Perpindahan ini membawa dampak pada pembentukan identitas baru. Di tempat tinggal barunya, mereka mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme dan tradisi lokal. Proses adaptasi inilah yang lambat laun memengaruhi ekspresi keagamaan mereka hingga tampak berbeda dari pemahaman Islam arus utama yang kita kenal di Indonesia atau Timur Tengah.
Meluruskan Miskonsepsi “Tak Wajib Salat dan Puasa”
Pernyataan yang menyebutkan bahwa Muslim Utsul tidak wajib melakukan salat atau puasa sebenarnya adalah bentuk penyederhanaan dari realitas yang lebih kompleks. Bagi masyarakat Utsul, identitas keislaman tetaplah sesuatu yang sakral. Namun, sejarah panjang di bawah tekanan politik dan sosial di China membuat praktik ibadah mereka menjadi lebih tertutup atau dilakukan secara simbolis.
Di beberapa periode sejarah China, praktik keagamaan secara terbuka memang dibatasi. Hal ini memaksa banyak etnis Muslim, termasuk Utsul, untuk melakukan penyesuaian agar bisa bertahan hidup tanpa menghilangkan akar identitas mereka. Sebagian peneliti melihat bahwa praktik ibadah mereka lebih bersifat batiniah atau dilakukan di ruang-ruang privat, sehingga muncul persepsi dari luar bahwa mereka tidak menjalankan syariat.
Asimilasi Budaya dan Tekanan Modernitas di Hainan
Lingkungan sosial di Hainan memainkan peran besar dalam membentuk perilaku Muslim Utsul saat ini. Sebagai kelompok minoritas yang hidup di tengah dominasi budaya Han, terjadi asimilasi yang tak terelakkan. Banyak dari mereka yang mengenakan pakaian tradisional China dalam keseharian, meski para wanita tetap mempertahankan penggunaan penutup kepala yang khas sebagai identitas Muslimah.
Pemerintah setempat juga memiliki kebijakan yang cukup ketat mengenai ekspresi keagamaan di ruang publik. Dalam beberapa tahun terakhir, pengawasan terhadap identitas Muslim di seluruh China semakin diperketat. Hal ini mencakup larangan penggunaan simbol-berbau Arab di bangunan umum hingga pembatasan aktivitas keagamaan bagi generasi muda. Kondisi eksternal inilah yang sering kali membuat praktik agama mereka terlihat “minimalis” di mata publik.
Identitas Utsul: Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Muslim Utsul tetap menjaga komunitas mereka dengan sangat erat. Di Sanya, terdapat masjid-masjid yang menjadi pusat kegiatan sosial mereka. Meskipun praktik ibadahnya mungkin dipengaruhi oleh tradisi lokal, mereka tetap mengidentifikasi diri sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW dan mempertahankan hukum pernikahan serta adat istiadat yang berbasis pada ajaran Islam.
Keunikan mereka justru terletak pada kemampuan bertahan di tengah lingkungan yang berbeda secara ideologis. Muslim Utsul membuktikan bahwa Islam dapat beradaptasi dengan budaya lokal tanpa harus sepenuhnya lenyap. Perdebatan mengenai “kewajiban” ibadah mereka pada akhirnya kembali pada hak prerogatif komunitas tersebut dalam menafsirkan agama mereka di bawah tekanan sosiopolitik yang mereka hadapi.
Sebuah Perspektif Baru Tentang Keberagaman Islam
Fenomena Muslim Utsul di Hainan memberikan pelajaran penting tentang bagaimana agama berinteraksi dengan sejarah dan kekuasaan. Islam tidak selalu tampil dalam bentuk yang seragam di seluruh dunia. Faktor geografis, sejarah pengungsian, dan kebijakan politik negara setempat akan selalu memengaruhi bagaimana sebuah kelompok menjalankan keyakinannya.
Melihat Muslim Utsul bukan hanya soal melihat seberapa sering mereka salat atau puasa, melainkan memahami bagaimana sebuah identitas kecil mampu bertahan selama ratusan tahun di tanah asing. Keberadaan mereka adalah pengingat akan luasnya spektrum peradaban Islam yang tidak hanya terbatas pada satu warna atau satu cara beribadah saja.