Menyingkap Tabir Misteri: Asal-Usul Hajar Aswad dalam Kajian Sains Modern

LOKERSEMARANG.CO.ID – Bagi umat Muslim di seluruh penjuru dunia, Hajar Aswad bukan sekadar batu biasa.

Terletak di sudut tenggara Ka’bah, batu hitam ini menjadi titik awal dan akhir prosesi tawaf. Secara teologis, Hajar Aswad diyakini berasal dari surga, dibawa oleh Malaikat Jibril untuk Nabi Ibrahim AS saat membangun kembali Baitullah.

Namun, di balik nilai spiritualnya yang amat tinggi, dunia sains menyimpan rasa penasaran yang besar. Selama puluhan tahun, para ilmuwan geologi dan peneliti benda langit mencoba membedah karakteristik fisik batu ini. Mereka berupaya menjawab satu pertanyaan mendasar: dari mana sebenarnya material unik ini berasal jika ditinjau secara empiris?


Hipotesis Meteorit dan Jejak Kawah Wabar

Salah satu teori yang paling populer di kalangan ilmuwan adalah anggapan bahwa Hajar Aswad merupakan batu meteorit. Teori ini sebenarnya selaras dengan keyakinan bahwa batu tersebut “jatuh dari langit”. Secara ilmiah, batu yang jatuh dari ruang angkasa ke Bumi memang dikategorikan sebagai meteorit.

Penelitian menonjol yang mendukung teori ini dilakukan oleh Elsebeth Thomsen dari Universitas Copenhagen dalam studinya berjudul “New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba”. Thomsen mengaitkan Hajar Aswad dengan Kawah Wabar yang terletak di gurun Rub’ al Khali, sekitar 1.100 kilometer dari Makkah.

Kawah Wabar sendiri terbentuk akibat hantaman meteorit besar ribuan tahun silam. Di lokasi tersebut, ditemukan material berupa kaca hasil lelehan pasir silika yang bercampur dengan nikel dan besi dari meteorit. Hasilnya adalah bongkahan hitam mengkilap yang secara fisik memiliki kemiripan dengan pecahan-pecahan Hajar Aswad.


Kaca Impaksi: Material Langka Akibat Tabrakan Kosmik

Lebih spesifik lagi, beberapa ahli menyebut Hajar Aswad sebagai impactite atau kaca impaksi. Material ini bukanlah meteorit murni, melainkan batuan Bumi yang berubah struktur kimianya secara instan akibat panas dan tekanan ekstrem saat meteorit menghantam permukaan tanah.

Karakteristik unik Hajar Aswad yang dilaporkan bisa mengapung di air menjadi penguat teori ini. Sebagian besar batu meteorit murni memiliki massa jenis yang berat karena kandungan logamnya. Namun, kaca impaksi sering kali memiliki rongga udara di dalamnya, yang memungkinkannya memiliki densitas rendah sehingga mampu mengapung.

Selain itu, Thomsen mencatat bahwa material di Kawah Wabar memiliki bagian luar yang hitam pekat namun bagian dalamnya berwarna putih atau berpori. Deskripsi ini sering dikaitkan dengan narasi sejarah yang menyebutkan bahwa Hajar Aswad awalnya berwarna putih bersih sebelum berubah menjadi hitam seiring waktu.


Perdebatan Antara Agate, Obsidian, atau Basalt

Meskipun teori meteorit sangat kuat, tidak semua ilmuwan sepakat. Sebagian ahli geologi memiliki pendapat berbeda berdasarkan pengamatan visual dan data sekunder. Ada yang menduga Hajar Aswad adalah jenis batu agate (akik) karena pola pita difusi yang terlihat pada permukaannya.

Hipotesis lain menyebutkan kemungkinan batu ini adalah obsidian, yakni kaca vulkanik hitam yang terbentuk dari pendinginan lava yang sangat cepat. Mengingat wilayah Arab Saudi memiliki sejarah aktivitas vulkanik purba di kawasan “Harrat”, teori ini dianggap masuk akal secara geografis.

Namun, tantangan terbesar bagi para ilmuwan adalah keterbatasan akses. Karena nilai kesuciannya, Hajar Aswad tidak diperbolehkan untuk diambil sampelnya atau diuji di laboratorium secara invasif. Para ilmuwan hanya bisa melakukan observasi dari jarak dekat atau menganalisis data historis serta material serupa di sekitar Jazirah Arab.


Titik Temu Antara Iman dan Ilmu Pengetahuan

Menariknya, kajian sains terhadap Hajar Aswad tidak lantas membenturkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Justru, banyak temuan ilmiah yang seolah memberikan konteks fisik pada penjelasan teologis. Jika hadis menyebutkan batu ini berasal dari surga (langit), maka sains menunjukkan adanya kemungkinan material tersebut memang datang melalui peristiwa kosmik.

Berdasarkan perkiraan usia, material di Kawah Wabar diyakini berusia sekitar 6.000 hingga 9.000 tahun. Hal ini beririsan dengan masa kehidupan Nabi Ibrahim AS. Para ahli menduga, kafilah dagang kuno dari Oman atau wilayah sekitarnya mungkin menemukan pecahan batu unik ini di gurun dan membawanya ke Makkah sebagai benda yang sangat berharga.

Hingga hari ini, Hajar Aswad tetap menjadi subjek yang mempesona baik bagi para pencari berkah maupun para pemburu data. Meskipun status pastinya secara mineralogi masih menyisakan ruang debat, satu hal yang pasti: Hajar Aswad tetap menjadi simbol pemersatu jutaan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia demi menyentuh sekelumit misteri dari langit tersebut.

Leave a Comment