Angin Segar bagi Investor, BEI Resmi Cabut Suspensi Saham PPRO: Apa Saja Alasannya?

LOKERSEMARANG.CO.ID – Kabar yang dinanti-nantikan oleh para pelaku pasar modal akhirnya tiba.

Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi mengumumkan pencabutan status penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) untuk PT PP Properti Tbk (PPRO). Keputusan ini menandai kembalinya anak usaha dari PT PP (Persero) Tbk tersebut ke lantai bursa setelah sempat “digembok” dalam waktu yang cukup lama.

Pembukaan kembali perdagangan saham ini berlaku mulai sesi I perdagangan Selasa, 24 Februari 2026. Langkah BEI ini tidak hanya menjadi angin segar bagi para pemegang saham yang modalnya sempat tertahan, tetapi juga menjadi sinyal positif mengenai proses pemulihan internal yang tengah dilakukan oleh perusahaan.


Alasan di Balik Keputusan BEI

Bursa Efek Indonesia tidak sembarangan dalam mencabut status suspensi sebuah emiten. Berdasarkan pengumuman resmi dari bursa, salah satu faktor utama yang mendasari pembukaan suspensi ini adalah pemenuhan kewajiban finansial oleh pihak perseroan. PPRO diketahui telah menyelesaikan pembayaran bunga obligasi yang sebelumnya sempat tertunda.

Sebagaimana diketahui, suspensi PPRO berawal dari masalah likuiditas yang menyebabkan perusahaan menunda pembayaran bunga Obligasi Berkelanjutan II PP Properti Tahap IV Tahun 2022 Seri B ke-11. Namun, pada 17 Februari 2026, PPRO dilaporkan telah menunaikan kewajiban tersebut, yang kemudian menjadi pertimbangan krusial bagi BEI untuk meninjau ulang status perdagangannya.

Selain faktor pembayaran utang, perusahaan juga secara aktif melakukan korespondensi dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk memastikan seluruh proses administrasi sejalan dengan hasil putusan homologasi atau perjanjian perdamaian dengan kreditur.


Restrukturisasi dan Pemulihan Kinerja Keuangan

Sepanjang tahun 2025, PPRO sebenarnya telah menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan meski masih berada dalam tekanan. Berdasarkan laporan keuangan per kuartal III-2025, perusahaan berhasil memangkas rugi bersih hingga 94,85 persen secara tahunan (year-on-year). Angka kerugian yang menyusut menjadi sekitar Rp37,02 miliar menunjukkan bahwa strategi efisiensi mulai membuahkan hasil.

Langkah restrukturisasi yang dilakukan tidak hanya fokus pada utang, tetapi juga pada penataan portofolio proyek. Manajemen PPRO mulai melakukan rasionalisasi harga dan memperkuat strategi pemasaran untuk menghadapi dinamika daya beli masyarakat. Penurunan beban keuangan yang drastis juga menjadi penopang utama membaiknya bottom line perusahaan.

Dengan status suspensi yang dicabut, PPRO kini memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk kembali menarik kepercayaan investor ritel maupun institusi. Namun, investor tetap diingatkan bahwa saham PPRO masih diperdagangkan dalam mekanisme Full Call Auction (FCA) karena berada di bawah pemantauan khusus.


Respons Pasar dan Pergerakan Harga

Pasca pembukaan gembok oleh BEI, pergerakan saham PPRO langsung menjadi pusat perhatian. Pada hari pertama perdagangannya kembali, antusiasme pasar terlihat cukup tinggi. Banyak investor mulai melakukan aksi beli, memanfaatkan harga yang saat ini berada di level yang relatif rendah akibat sentimen negatif di masa lalu.

Meski demikian, para analis menyarankan agar investor tetap waspada. Kembalinya perdagangan PPRO merupakan fase awal dari perjalanan panjang pemulihan fundamental. Tantangan sektor properti, seperti suku bunga dan daya beli, masih akan menjadi faktor eksternal yang membayangi pergerakan harga saham ke depan.

Pembentukan harga di pasar saat ini akan mencerminkan sejauh mana publik percaya pada janji manajemen untuk mengembalikan kejayaan PPRO sebagai salah satu pemain utama di sektor properti hunian vertikal.


Masa Depan PPRO di Lantai Bursa

Direktur Utama PPRO dalam beberapa kesempatan sebelumnya menegaskan bahwa pencabutan suspensi adalah prioritas jangka pendek perusahaan. Dengan target ini yang sudah tercapai, fokus selanjutnya kemungkinan besar adalah penguatan operasional dan penyelesaian proyek-proyek mangkrak atau tertunda.

Partisipasi PPRO dalam program pemerintah serta sinergi dengan induk usaha, PTPP, diharapkan mampu mempercepat pemulihan aset. Bagi pemegang saham ritel yang sebelumnya sempat “nyangkut”, momen ini menjadi kesempatan penting untuk mengevaluasi kembali portofolio mereka, apakah akan tetap memegang saham untuk jangka panjang atau melakukan penyesuaian strategi.

Secara keseluruhan, langkah BEI membuka kembali keran perdagangan PPRO adalah validasi atas upaya perbaikan yang telah dilakukan. Kini, bola berada di tangan manajemen untuk membuktikan bahwa transparansi dan tata kelola perusahaan tetap terjaga demi kepentingan seluruh pemangku kepentingan.

Leave a Comment