Profesor Kaget, Banyak Mahasiswa Gen Z Masuk Kuliah Kesulitan Membaca Teks Akademik

LOKERSEMARANG.CO.ID – Belakangan ini sejumlah pengajar di universitas besar di Amerika Serikat melaporkan fenomena yang mengejutkan karena banyak mahasiswa generasi Z yang memasuki bangku kuliah tampak kesulitan membaca dan memahami teks panjang seperti yang umum digunakan dalam lingkungan pendidikan tinggi. Temuan ini memantik diskusi serius mengenai kesiapan literasi generasi muda dalam mengikuti kurikulum yang menuntut keterampilan membaca dan berpikir kritis.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan individual, tetapi sebuah tren yang mulai terlihat di berbagai kampus, terutama ketika dosen memberikan bacaan panjang sebagai tugas atau bagian dari diskusi kelas. Ketika mahasiswa tidak menyiapkan atau memahami materi bacaan tersebut, perkuliahan pun menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pengajar untuk mempertahankan standar akademik.

Dosen dan Tantangan Bacaan dalam Kelas

Beberapa profesor sastra dan humaniora di kampus ternama menyampaikan bahwa mahasiswa masa kini sering kali tidak siap menghadapi materi bacaan yang lebih panjang atau kompleks. Mereka menemukan bahwa mahasiswa tidak hanya kesulitan membaca cepat, tetapi juga memahami struktur kalimat dan ide yang tersurat dalam teks akademik. Dalam beberapa kasus, dosen bahkan harus membacakan teks baris per baris guna membantu pemahaman mahasiswa.

Mengurangi tugas membaca atau mengganti dengan format lain menjadi pilihan yang dilakukan beberapa pengajar agar kelas tetap berjalan. Namun langkah-langkah seperti ini rupanya tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan, karena mahasiswa sering kali mengandalkan ringkasan atau bantuan teknologi seperti kecerdasan buatan untuk mendapatkan inti materi tanpa membaca sendiri.

Akar Masalah yang Lebih Dalam

Kesulitan membaca di kalangan mahasiswa Gen Z ini dapat dilihat sebagai bagian dari perubahan besar dalam cara generasi ini mengakses informasi. Banyak mahasiswa kini lebih terbiasa dengan konten video pendek atau ringkasan digital cepat, ketimbang membaca teks panjang dan menganalisis maknanya secara mendalam. Hal ini tercermin dalam berbagai diskusi dan laporan dari para pengajar di luar negeri, yang sering menyebut fenomena ini sebagai interpretasi bacaan yang lemah atau media literacy yang belum matang.

Salah satu aspek yang turut menjadi faktor adalah pergeseran gaya belajar generasi muda yang sangat dipengaruhi oleh teknologi. Sebagian mahasiswa cenderung mencari informasi lewat video atau konten visual daripada membaca sumber tertulis secara langsung. Dalam beberapa kasus, pengalaman diskusi daring dan penggunaan ringkasan otomatis membuat keterampilan memahami teks panjang tidak berkembang dengan baik.

Dampak pada Proses Pembelajaran

Kesulitan membaca teks panjang dalam konteks akademik memberikan konsekuensi nyata bagi kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Ketika mahasiswa tidak membaca bacaan yang ditugaskan, diskusi kelas bisa menjadi dangkal, nilai dan penilaian karya tulis menurun, serta dosen harus mengubah strategi pengajaran secara signifikan agar pemahaman materi tetap tercapai.

Beberapa tenaga pengajar melaporkan bahwa tugas membaca yang dulu dianggap standar seperti misalnya puluhan halaman per minggu kini dinilai tidak realistis bagi banyak mahasiswa Gen Z. Hal ini memaksa pengajar untuk memikirkan ulang strategi pembelajaran, termasuk memecah bacaan panjang menjadi segmen lebih pendek atau memperkenalkan materi melalui media lain sebelum ditugaskan untuk dibaca sendiri.

Diskusi Lebih Luas Tentang Literasi Generasi Z

Fenomena ini memicu percakapan lebih luas tentang peran pendidikan tinggi dalam mengembangkan keterampilan dasar seperti membaca dan berpikir kritis. Sementara kemampuan membaca telah lama menjadi fondasi utama dalam pendidikan, perubahan dalam cara generasi muda memproses informasi kini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana sistem pendidikan saat ini telah menyesuaikan diri dengan kebutuhan generasi baru?

Ada laporan yang menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Gen Z datang ke perguruan tinggi tanpa bekal keterampilan membaca dan berpikir kritis setara dengan tuntutan akademik. Beberapa profesor bahkan melihat mahasiswa mampu menyelesaikan tugas lebih efisien dengan chatbot AI atau ringkasan otomatis, tetapi kurang mampu mengevaluasi dan menganalisis bacaan secara mendalam.

Evaluasi Kebiasaan Belajar dan Lingkungan Teknologi

Pengaruh lingkungan digital pada proses belajar generasi Z menjadi bagian dari analisis yang lebih luas. Seiring dengan tumbuhnya platform video dan media sosial, generasi ini tumbuh dalam ekosistem konten yang cepat dan visual. Hal ini tampaknya mengubah cara mereka mencari dan memahami informasi lebih cepat dalam konsumsi konten singkat, tetapi kurang terbiasa dengan proses membaca panjang dan refleksi kritis yang diperlukan dalam konteks akademik.

Kemampuan membaca yang rendah ini tidak selalu berkaitan dengan kecerdasan atau motivasi mahasiswa. Namun, ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca dalam era digital perlu dipandang ulang di ranah pendidikan formal. Tantangan ini mengajak institusi pendidikan untuk menyusun ulang pendekatan pembelajaran yang menggabungkan keterampilan digital sekaligus menyiapkan mahasiswa untuk tantangan akademik yang lebih kompleks.

Menyikapi Tantangan di Kampus

Menanggapi dinamika ini, beberapa kampus mulai bereksperimen dengan berbagai strategi pengajaran seperti pembelajaran terbalik (flipped classroom), pendekatan bertahap dalam membaca, atau kombinasi bacaan dengan diskusi aktif di kelas. Pendekatan semacam ini ditujukan agar mahasiswa tidak hanya membaca sekilas, tetapi juga mampu menangkap gagasan utama dan menerapkannya dalam diskusi atau penugasan.

Selain itu, pengembangan keterampilan literasi akademik di awal masa kuliah melalui workshop membaca kritis atau kursus penulisan ilmiah dianggap penting untuk memberi fondasi kuat bagi mahasiswa baru yang mungkin belum siap sepenuhnya dengan tuntutan bacaan akademik.

Antisipasi Masa Depan Pendidikan Tinggi

Dalam jangka panjang, fenomena kesulitan membaca di kalangan mahasiswa Gen Z menyoroti kebutuhan mendesak akan reformasi pendidikan. Mendorong keterampilan membaca akademik yang kuat bukan hanya memberi manfaat bagi proses pembelajaran saat ini, tetapi juga menyiapkan generasi muda untuk menghadapi tuntutan profesional di masa depan di mana kemampuan menganalisis dan memahami informasi kompleks tetap sangat dibutuhkan.

Leave a Comment