Oli Mobil Bocor Apakah Masih Aman Dipakai? Ini Penjelasan Ahli

LOKERSEMARANG.CO.ID-Menemukan noda cairan berwarna hitam atau cokelat di lantai garasi sering kali menjadi momen yang mendebarkan bagi setiap pemilik mobil. Kebocoran oli mesin adalah salah satu masalah mekanis yang paling umum namun sering disepelekan. Pertanyaan yang kemudian muncul di benak pengemudi adalah: “Apakah mobil ini masih aman untuk dipacu, ataukah saya harus segera memanggil mobil derek?”

Secara teknis, oli adalah “darah” bagi mesin kendaraan. Fungsinya tidak hanya melumasi komponen yang bergesekan, tetapi juga membantu mendinginkan suhu mesin dan membersihkan kotoran di dalam ruang bakar. Ketika terjadi kebocoran, sistem pelumasan akan terganggu. Namun, tingkat keamanan berkendara saat terjadi kebocoran sangat bergantung pada volume oli yang hilang dan lokasi sumber kebocoran tersebut. Menurut para ahli otomotif, membiarkan kebocoran tanpa penanganan ibarat membiarkan bom waktu yang siap menghancurkan komponen internal mesin.

Berikut adalah narasi mendalam yang membedah sejauh mana batas toleransi keamanan saat mobil mengalami kebocoran oli, serta risiko fatal yang mengintai jika Anda mengabaikannya.

Analisis Risiko: Antara “Rembes” Halus dan Bocor Deras

Ahli teknis membagi kondisi kebocoran oli menjadi dua kategori utama. Pertama adalah “rembes” atau sweating, di mana oli hanya terlihat membasahi permukaan blok mesin tanpa adanya tetesan yang jatuh ke lantai. Dalam kondisi ini, mobil biasanya masih aman digunakan untuk jarak pendek, namun pemilik harus rajin memantau stik celup (dipstick) secara berkala untuk memastikan volume oli tidak berada di bawah garis minimal.

Kategori kedua adalah “bocor deras”, di mana oli sudah menetes secara aktif saat mesin menyala atau diparkir. Dalam kondisi ini, para ahli sepakat bahwa mobil tidak aman untuk digunakan. Bahaya utama bukan hanya mesin akan kekurangan pelumas, tetapi risiko kebakaran. Jika tetesan oli mengenai komponen yang sangat panas seperti manifol gas buang (exhaust manifold) atau pipa knalpot, oli tersebut bisa terbakar dan memicu api di ruang mesin. Selain itu, oli yang bocor dapat merusak komponen karet seperti fan belt atau bushing suspensi yang jika terkena oli akan cepat melunak dan hancur.

Bahaya Fatal: Dari Overheat hingga Turun Mesin

Mengapa ahli sangat mewanti-wanti masalah ini? Ketika volume oli berkurang drastis akibat bocor, tekanan oli di dalam mesin akan turun (low oil pressure). Tanpa tekanan yang cukup, pelumas tidak dapat menjangkau bagian atas mesin seperti noken as (camshaft) dan katup-katup. Gesekan logam melawan logam tanpa pelindung akan menghasilkan panas luar biasa dalam waktu singkat.

Efek domino yang paling ditakuti adalah mesin macet (stuck). Komponen seperti piston dapat memuai dan mengunci di dalam silinder, atau bantalan poros engkol (metal jalan/duduk) bisa hancur. Jika hal ini terjadi saat mobil melaju dalam kecepatan tinggi, mesin akan mati mendadak dan berisiko menyebabkan kecelakaan. Biaya untuk memperbaiki kerusakan akibat kehabisan oli sering kali setara dengan harga setengah mesin baru, atau yang biasa dikenal dengan istilah turun mesin total (overhaul).

Langkah Darurat dan Penanganan yang Tepat

Jika Anda mendeteksi adanya kebocoran saat berada di tengah perjalanan, langkah pertama yang disarankan ahli adalah segera menepi di tempat yang aman dan mematikan mesin. Tunggu sekitar 10-15 menit agar oli turun ke bak penampungan, lalu cek level oli melalui dipstick. Jika posisi oli sudah di bawah batas minimal, jangan menyalakan mesin kembali sebelum Anda menambahkannya dengan oli baru hingga batas aman.

Namun, menambah oli hanyalah solusi jangka pendek. Anda tetap harus segera membawa mobil ke bengkel untuk mengidentifikasi sumber kebocoran. Umumnya, kebocoran disebabkan oleh hal-hal berikut:

  • Seal atau Gasket yang Aus: Seperti packing tutup klep atau seal kruk as yang sudah mengeras.

  • Baut Pembuangan yang Longgar: Atau ring baut pembuangan (crush washer) yang sudah tidak rata.

  • Filter Oli yang Tidak Kencang: Atau karet seal pada filter yang terjepit saat pemasangan.

Kesimpulan: Jangan Pertaruhkan Mesin Anda

Jawaban singkat atas pertanyaan apakah mobil aman digunakan saat oli bocor adalah: Hanya aman jika kebocoran bersifat rembesan halus dan volume oli tetap terjaga. Namun, jika sudah ada tetesan di lantai, risiko yang Anda ambil jauh lebih besar daripada biaya perbaikan di bengkel. Keselamatan berkendara dan keawetan mesin jangka panjang harus selalu menjadi prioritas di atas kenyamanan menunda perbaikan.

Pengecekan rutin di area bawah mesin setiap pagi sebelum memanaskan mobil adalah kebiasaan sederhana yang dapat menyelamatkan Anda dari biaya perbaikan puluhan juta rupiah. Ingat, mencegah kerusakan akibat oli bocor jauh lebih mudah dan murah daripada menangani dampak kehancuran mesin yang diakibatkannya.

Artikel ditulis oleh: Mokhamad Abdul Hadi

Leave a Comment