LOKERSEMARANG.CO.ID – Membicarakan soal keuangan sering kali membuat siapa pun merasa perlu segera terjun ke dunia investasi.
Namun, di balik gemerlap testimoni kesuksesan para influencer keuangan, tersimpan sisi gelap dan kesalahpahaman fundamental yang jarang dikupas tuntas. Banyak orang yang mengaku sedang berinvestasi, padahal sebenarnya mereka sedang mempertaruhkan nasib dalam sebuah perjudian terselubung.
Memahami esensi keuangan bukan sekadar soal angka, melainkan soal prinsip hidup. Investasi yang sehat dimulai dari pemahaman bahwa kegiatan ini bukanlah jalan pintas menuju kekayaan instan. Sayangnya, gelombang informasi yang masif sejak era pandemi telah menggeser makna investasi menjadi alat pemasaran untuk produk-produk spekulatif yang justru menjerumuskan masyarakat ke dalam jurang kerugian.
Meluruskan Definisi: Investasi vs Perjudian
Kesalahan pertama yang paling jamak ditemukan adalah definisi investasi itu sendiri. Mayoritas orang menganggap investasi sebagai cara untuk memperkaya diri secepat mungkin. Padahal, secara prinsip, investasi adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi nilai aset saat ini agar tidak tergerus oleh inflasi di masa depan. Fokus utamanya adalah memitigasi risiko jatuh miskin, bukan sekadar menumpuk harta.
Analogi sederhananya bisa dilihat dari daya beli uang. Jika uang Rp20.000 hari ini bisa membeli semangkuk bakso, tujuan investasi adalah memastikan bahwa sepuluh tahun lagi, uang tersebut masih memiliki nilai yang setara untuk membeli semangkuk bakso yang sama.
Sebaliknya, jika Anda berharap uang tersebut berlipat ganda dalam hitungan hari, Anda tidak sedang berinvestasi, melainkan sedang berjudi. Perbedaan tipis inilah yang sering kali gagal dipahami oleh investor pemula.
Indikator Investasi yang Sehat: Bukan Soal Instrumen, Tapi Keadaan
Banyak orang terjebak pada pertanyaan instrumen apa yang paling menguntungkan, apakah itu saham, kripto, atau obligasi. Padahal, kesehatan sebuah investasi tidak ditentukan oleh faktor eksternal atau tren pasar, melainkan oleh kondisi internal diri sendiri. Ada tiga pilar utama yang harus dipenuhi sebelum seseorang memutuskan untuk mulai berinvestasi.
Pertama adalah kecukupan pendapatan (income). Jika pendapatan saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan dasar, maka investasi bukanlah pilihan yang bijak. Kedua adalah manajemen risiko yang matang, dan ketiga adalah pemenuhan tanggung jawab keluarga. Jika pilar-pilar ini bermasalah, keputusan untuk berinvestasi justru akan menambah beban mental dan finansial.
Investasi yang sehat seharusnya dilakukan dengan hati yang tenang, bukan dengan rasa cemas yang membuat rambut rontok atau stres berkepanjangan.
Solusi Menjadi Kaya: Kerja, Bukan Sekadar Menabung
Sebuah kebenaran pahit yang jarang diungkapkan adalah bahwa investasi jarang sekali membuat seseorang kaya dalam waktu singkat. Jika tujuan utama Anda adalah mencapai kemakmuran atau memiliki barang mewah seperti Ferrari dalam waktu cepat, maka solusinya bukan berinvestasi, melainkan bekerja lebih keras atau meningkatkan kapasitas diri.
Investasi adalah tentang memupuk modal jangka panjang, sementara kerja adalah tentang menghasilkan arus kas instan.
Meningkatkan human capital melalui keahlian dan produktivitas adalah kunci utama. Di masa muda, aset terbesar yang dimiliki seseorang bukanlah uang, melainkan usia dan ketahanan fisik. Masa ini seharusnya digunakan untuk mengambil risiko dalam pekerjaan, membangun jejaring, dan terus belajar. Investasi baru akan terasa manfaatnya secara eksponensial ketika kita sudah memiliki surplus pendapatan yang cukup untuk ditaruh sebagai jaminan masa depan saat kapasitas kerja kita mulai menurun di usia lanjut.
Kritik Terhadap “Daily Trading” dan Mentalitas Instan
Fenomena daily trading yang sering dipoles sebagai kunci kesuksesan adalah salah satu jebakan yang paling berbahaya. Dalam realitanya, hanya sekitar 2% orang yang benar-benar berhasil dalam aktivitas ini, sementara 98% sisanya berakhir dengan kegagalan. Menjadikan trading sebagai pekerjaan utama saat seseorang masih berada di usia produktif dianggap sebagai sebuah kesalahan strategi hidup yang fatal.
Dunia bekerja memang penuh dengan pengorbanan dan biaya peluang (opportunity cost). Namun, mengutuk keadaan atau sekadar melontarkan kritik sosial tanpa adanya usaha nyata untuk mengubah nasib sendiri tidak akan membawa perubahan apa pun pada taraf hidup. Kemampuan untuk mengelola ekspektasi dan memahami hakikat dasar keuangan akan menjaga seseorang agar tidak menjadi korban dari euforia pasar yang sering kali menyesatkan.