LOKERSEMARANG.CO.ID – Setiap memasuki bulan Ramadan, fenomena menarik tampak dalam perilaku finansial masyarakat Indonesia yaitu tren pinjaman online (pinjol) mengalami lonjakan. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa penyaluran dana melalui fintech lending meningkat signifikan secara bulanan selama Ramadan 2024 dan 2025, meskipun tidak selalu didorong oleh kebutuhan produktif.
Fenomena ini membuka refleksi penting mengenai bagaimana masyarakat mengatur keuangan di periode yang kerap memunculkan pengeluaran konsumtif, sekaligus bagaimana risiko yang mungkin mengintai bila peminjaman dikelola tidak bijak.
Mengapa Pinjaman Online Meningkat Selama Ramadan?
1. Momentum Peningkatan Kebutuhan Finansial
Menurut pernyataan OJK, periode Ramadan sering menjadi titik lonjakan permintaan pendanaan melalui pinjol, yang tercatat meningkat sekitar 8,9% mtm pada Ramadan 2024 dan 3,8% mtm pada Ramadan 2025. Penyaluran ini sebagian besar digunakan untuk kebutuhan konsumtif, bukan investasi produktif.
Aktivitas sosial dan budaya pada Ramadan dan menjelang Idulfitri sering memicu kebutuhan finansial yang lebih besar, terutama untuk konsumsi dan tradisi keluarga. Tren ini juga diamati oleh berbagai lembaga riset ekonomi yang mencatat permintaan pinjol meningkat tajam di periode-periode spesial seperti menjelang lebaran.
2. Faktor Perilaku Konsumtif
Ahli ekonomi syariah dari sebuah universitas terkemuka menjelaskan bahwa sebagian besar pengguna pinjol pada Ramadan bukan karena kebutuhan darurat, tetapi akibat pola konsumtif yang dipengaruhi tekanan sosial. Ketika seseorang merasa perlu mengikuti gaya hidup tertentu, dorongan emosional seperti FOMO (fear of missing out) dapat mendorong keputusan meminjam tanpa perencanaan matang.
Risiko Pinjaman Online yang Harus Diwaspadai
1. Utang Berkembang Tanpa Kontrol
Meminjam untuk kebutuhan konsumtif berarti dana yang dimanfaatkan tidak menghasilkan imbal balik finansial. Alhasil, ketika bunga dan biaya layanan ditambahkan, total utang bisa meningkat lebih cepat daripada kemampuan bayar peminjam.
Bunga tinggi dan biaya lain dapat membuat utang melejit, terutama bila saldo rekening tidak cukup untuk menutup seluruh kewajiban pada saat jatuh tempo. Hal ini tidak hanya memberikan tekanan finansial, tetapi juga dapat berdampak psikologis.
2. Potensi Penagihan Tidak Etis
Menurut pandangan ahli, beberapa praktik penagihan pinjol dapat membuat konsumen merasa tertekan, seperti penyebaran informasi pribadi atau ancaman lewat komunikasi tak profesional. Tekanan semacam ini bisa menimbulkan stres bahkan dampak sosial negatif bila tidak ditangani dengan benar.
Cara Bijak Mengelola Keuangan Agar Terhindar dari Risiko Pinjol
1. Tinjau Ulang Pola Konsumsi
Ketika kebutuhan finansial meningkat, sebaiknya evaluasi terlebih dahulu apakah pengeluaran tersebut penting atau hanya keinginan sesaat. Menjaga gaya hidup sesuai kemampuan finansial adalah langkah awal mencegah ketergantungan pada utang konsumtif.
2. Hindari Meminjam Tanpa Urgensi
Pinjaman sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi mendesak seperti kebutuhan medis, situasi darurat, atau bencana. Bila tidak, semakin besar kemungkinan pinjaman menambah beban finansial yang tidak perlu.
3. Cari Alternatif Pembiayaan yang Lebih Aman
Bagi mereka yang sudah terlanjur memiliki utang pinjol, mencari alternatif pembiayaan dengan bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang bisa membantu menyusun strategi lunas utang yang lebih terkontrol. Strategi ini memungkinkan mengatur cicilan dalam jangka waktu lebih lama tanpa tekanan bunga tinggi sekaligus menjaga ketenangan pikiran.