Setahun Menjabat, Wali Kota Didesak Bertanggung Jawab di Hadapan Mahasiswa

LOKERSEMARANG – Aliansi BEM Mahasiswa Cirebon Raya menggelar aksi evaluasi satu tahun masa jabatan kepala daerah Kota Cirebon pada Jumat (27/2). Aksi dimulai pukul 14.00 WIB dengan titik kumpul di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, sebelum massa bergerak menuju Balai Kota Cirebon sekitar pukul 14.40 WIB. Aksi tersebut difokuskan pada penyampaian kritik, tuntutan, serta penagihan realisasi janji politik yang dinilai belum terpenuhi.

Setibanya di Balai Kota, massa melakukan orasi secara bergantian di depan gedung pemerintahan. Dalam jalannya aksi, mahasiswa sempat masuk ke halaman Balai Kota dan melakukan komunikasi dengan wali kota melalui sambungan video call. Situasi berlangsung tertib tanpa kericuhan.

Dalam pernyataannya, aliansi mahasiswa menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk evaluasi atas kinerja satu tahun pemerintahan daerah. Mereka menilai sejumlah persoalan strategis belum ditangani secara optimal dan membutuhkan langkah konkret, bukan sekadar komitmen normatif.

Di sektor pendidikan, mahasiswa menyoroti persoalan kesejahteraan guru honorer yang dinilai belum sesuai standar kelayakan hidup. Selain itu, mereka mendesak perbaikan dan pemerataan sarana prasarana pendidikan, penghentian segala bentuk pungutan liar di lingkungan sekolah, serta transparansi anggaran pendidikan yang disertai pengawasan ketat.

Isu tata ruang dan lingkungan kota turut menjadi sorotan. Mahasiswa menuntut pemenuhan proporsi ruang terbuka hijau sesuai regulasi nasional dan penghentian alih fungsi lahan yang tidak sesuai aturan. Mereka juga mendesak perbaikan serta normalisasi drainase guna mencegah banjir, disertai evaluasi berkala terhadap sistem pengelolaan air kota.

Pengendalian pembangunan agar sesuai dengan daya tampung wilayah menjadi perhatian lain dalam aksi tersebut. Aliansi meminta penataan kawasan padat tanpa mengabaikan hak masyarakat. Penegakan aturan jarak minimal tempat hiburan dengan institusi pendidikan serta evaluasi izin usaha yang melanggar ketentuan juga disuarakan.

Selain itu, mahasiswa mendesak realisasi visi dan misi SETARA (Sejahtera, Terata, Aspiratif, Religius, Aman) secara konkret dan terukur. Mereka juga menagih pelaksanaan 23 janji politik yang sebelumnya dikampanyekan kepada publik.

Di bidang pemerintahan, aliansi meminta evaluasi dan publikasi seluruh peraturan wali kota yang berdampak langsung kepada masyarakat. Mereka juga menuntut keterlibatan publik dalam penyusunan kebijakan strategis serta transparansi realisasi anggaran daerah dan keterbukaan data pembangunan.

Sektor transportasi umum dan infrastruktur turut menjadi bagian dari tuntutan. Mahasiswa meminta kejelasan dan transparansi terkait penarikan operasional Trans Cirebon, solusi transportasi yang aman dan terjangkau, perbaikan jalan berlubang serta titik rawan kecelakaan, penanganan kemacetan, dan pemerataan penerangan jalan umum.

Di bidang kesehatan, mereka mendesak pendataan ulang dan penjaminan status aktif BPJS Kesehatan bagi warga kurang mampu. Pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi juga menjadi tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut.

Koordinator lapangan aksi menyampaikan kekecewaan terhadap respons pemerintah daerah selama ini. “Ya intinya kami, aliansi BEM Cirebon Raya sangat kecewa dengan atas apa yang terjadi saat ini karena dari mereka tidak menghiraukan apa yang kami sampaikan, seperti itu,” ujarnya.

Menurut dia, aspirasi yang telah berulang kali disuarakan belum memperoleh tindak lanjut yang jelas. Oleh karena itu, aksi ini disebut sebagai bentuk penegasan sikap mahasiswa terhadap pemerintah daerah.

Terkait hasil komunikasi saat aksi berlangsung, koordinator lapangan menyatakan telah disepakati agenda audiensi terbuka. “Terkait dengan hasilnya, untuk kita bisa penjadwalan ulang dan kita bisa bertemu langsung dengan pihak wali kota itu tanggal 4 Maret hari Rabu,” katanya.

Ia menambahkan, aliansi akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila audiensi tersebut tidak terlaksana sesuai jadwal. “Ketika tanggal 4 tidak bisa, ataupun tidak dikabulkan, maka kami akan membawa massa yang lebih banyak lagi,” ujarnya.

Aksi evaluasi satu tahun kepemimpinan tersebut berlangsung damai hingga selesai. Mahasiswa membubarkan diri secara tertib setelah memastikan kesepakatan audiensi pada awal Maret mendatang.

Leave a Comment