Barcelona Puncaki Pendapatan Jersey dan Merchandise Klub Eropa Musim 2024/2025

LOKERSEMARANG.CO.ID – Keberhasilan sebuah klub sepak bola modern kini tidak lagi hanya diukur dari trofi yang berjejer di lemari kaca, tetapi juga dari angka-angka yang tertera dalam laporan keuangan. Dalam rilis terbaru UEFA bertajuk European Club Finance and Investment Landscape 2025, FC Barcelona berhasil mengukuhkan dominasi absolut mereka di sektor komersial, khususnya dalam penjualan jersey dan produk merchandise.

​Meski sempat diterpa isu krisis finansial dalam beberapa tahun terakhir, klub asal Catalan ini justru mencatatkan rekor pendapatan yang fantastis. Barcelona resmi dinobatkan sebagai klub dengan pendapatan dari sektor kit dan merchandise tertinggi di seluruh Eropa, melampaui rival abadi mereka, Real Madrid.

Lonjakan Pendapatan yang Melampaui Prediksi

​Berdasarkan data yang dihimpun UEFA, Barcelona membukukan pendapatan sebesar €277 juta (sekitar Rp4,7 triliun) hanya dari sektor penjualan jersey dan produk berlisensi. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif dibandingkan periode sebelumnya. Sebagai perbandingan, Real Madrid berada di posisi kedua dengan raihan €231 juta, diikuti oleh raksasa Jerman, Bayern Munchen, yang mengumpulkan €189 juta.

​Kesenjangan yang cukup lebar antara Barcelona dan para pesaingnya menjadi sinyal kuat bahwa daya tarik merek Blaugrana masih sangat kuat di pasar global. Pertumbuhan ini juga dipicu oleh pulihnya sektor retail pascapandemi dan optimalisasi jalur distribusi produk secara internasional.

Peran Kunci Lamine Yamal dan Ikon La Masia

​Menariknya, lonjakan penjualan ini terjadi di era pasca-Lionel Messi. UEFA menyoroti bahwa salah satu faktor utama di balik antusiasme penggemar adalah munculnya bintang-bintang muda dari akademi La Masia. Nama Lamine Yamal menjadi katalisator utama dalam pergerakan angka penjualan jersey bernomor punggung 10 yang kini ia kenakan.

​Fenomena Yamal membuktikan bahwa loyalitas penggemar Barcelona sangat terikat dengan identitas klub yang mempromosikan bakat lokal. Selain Yamal, pemain seperti Gavi dan Pedri juga memberikan kontribusi signifikan dalam menarik minat generasi muda untuk membeli produk asli klub. Hal ini menciptakan hubungan emosional yang kuat antara suporter dan tim yang sedang dalam masa transisi.

Strategi BLM: Mesin Pencetak Uang Barcelona

​Keberhasilan ini tidak lepas dari keberanian manajemen dalam mengelola unit bisnis mereka sendiri melalui Barça Licensing & Merchandising (BLM). Berbeda dengan banyak klub lain yang menyerahkan pengelolaan retail kepada pihak ketiga, Barcelona memilih untuk mengontrol penuh rantai pasokan dan pemasaran produk mereka.

​Dengan kendali penuh di bawah BLM, klub mampu merespons tren pasar dengan lebih cepat. Mereka merilis koleksi pakaian gaya hidup, produk retro yang terinspirasi dari era Johan Cruyff, hingga kolaborasi eksklusif yang menyasar segmen pasar non-olahraga. Fleksibilitas inilah yang membuat margin keuntungan klub menjadi lebih tebal dan pendapatan tetap stabil meski prestasi di lapangan fluktuatif.

Kemitraan Strategis dengan Nike dan Spotify

​Sektor perlengkapan teknis juga menjadi pilar pendukung utama. Tahun pertama dari pembaruan kontrak jangka panjang dengan Nike memberikan suntikan dana dan dukungan logistik yang masif. Hubungan yang sempat menegang antara klub dan apparel asal Amerika Serikat tersebut tampaknya telah mencapai titik temu yang saling menguntungkan.

​Selain itu, integrasi merek Spotify dalam ekosistem komersial Barcelona turut memperluas jangkauan pasar hingga ke industri hiburan dan musik. Kolaborasi logo musisi dunia pada jersey saat laga El Clasico menjadi kampanye pemasaran yang sangat sukses, menciptakan kelangkaan produk yang mendorong harga dan minat kolektor di seluruh dunia.

Menatap Masa Depan Finansial yang Lebih Sehat

​Meskipun laporan UEFA juga mencatat bahwa biaya operasional klub-klub Eropa secara umum meningkat akibat inflasi, posisi Barcelona di puncak daftar pendapatan merchandise memberikan ruang napas yang lega bagi manajemen. Pendapatan komersial yang tinggi adalah kunci bagi klub untuk tetap kompetitif dalam bursa transfer tanpa melanggar aturan Financial Sustainability yang ditetapkan UEFA.

​Keberhasilan mengamankan €277 juta dari sektor merchandise hanyalah satu bagian dari teka-teki pemulihan ekonomi klub. Dengan rencana kembalinya tim ke Stadion Spotify Camp Nou yang baru secara penuh, potensi pendapatan dari hari pertandingan (matchday) diprediksi akan bersinergi dengan penjualan retail untuk menciptakan rekor finansial baru di musim-musim mendatang.

​Dominasi Barcelona dalam daftar ini membuktikan satu hal: meskipun pemain besar bisa pergi, kekuatan identitas dan loyalitas massal terhadap sebuah klub tetap menjadi aset yang tidak ternilai harganya dalam industri sepak bola global.

Artikel ditulis oleh: Ilham Tiaz Setiawan

Leave a Comment