Sinyal Baru dari Pyongyang: Kim Jong Un Buka Pintu Persahabatan untuk AS, Namun “Haramkan” Hubungan dengan Korsel

LOKERSEMARANG.CO.ID – Peta geopolitik di Semenanjung Korea kembali memanas menyusul pernyataan terbaru dari pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un. Dalam sebuah langkah diplomatik yang mengejutkan banyak pihak, Kim memberikan sinyal bahwa negaranya tidak menutup kemungkinan untuk menjalin relasi yang lebih baik dengan Amerika Serikat. Namun, tawaran persahabatan ini berbanding terbalik dengan sikapnya terhadap Korea Selatan yang kini dicap sebagai musuh permanen.

Pernyataan ini muncul dalam Kongres Partai Buruh yang digelar pada Rabu (25/2/2026), di mana Kim menjabarkan arah kebijakan luar negeri Korea Utara yang kian tegas dan independen.

 

Syarat Berteman dengan Amerika Serikat

Kim Jong Un menekankan bahwa permusuhan antara Pyongyang dan Washington tidak harus berlangsung selamanya. Ia membuka peluang dialog di masa depan, namun memberikan syarat yang sangat mendasar bagi Amerika Serikat. Menurut Kim, hubungan baik bisa terjalin asalkan Washington mau mengubah cara pandangnya terhadap status Korea Utara.

Secara spesifik, Kim menuntut agar Washington menghormati status Korea Utara sebagaimana yang telah diatur dalam Konstitusi negara tersebut. Selain itu, syarat mutlak lainnya adalah penarikan kebijakan permusuhan yang selama ini diterapkan oleh AS terhadap Pyongyang. Jika kedua poin ini dipenuhi, Kim menyatakan tidak ada alasan bagi kedua negara untuk tidak menjadi teman baik.

 

Penolakan Total terhadap Korea Selatan

Jika terhadap Amerika Serikat Kim tampak melunak, hal sebaliknya justru terjadi terhadap Korea Selatan. Kim Jong Un menggunakan nada bicara yang jauh lebih agresif saat membahas tetangganya tersebut. Ia secara eksplisit menyebut Korea Selatan sebagai entitas yang paling bermusuhan.

Bahkan, Kim menyatakan bahwa Korea Utara akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori warga negara. Pesan Kim kepada Seoul sangat jelas yaitu Korea Selatan harus melepaskan segala urusan dengan Korea Utara dan membiarkan mereka sendiri jika ingin hidup aman. Strategi ini, menurut para pakar, menunjukkan niat Pyongyang untuk menjalin hubungan langsung dengan AS secara independen tanpa melibatkan peran Seoul sebagai perantara.

 

Perkuatan Militer dan Persenjataan Nuklir

Di balik tawaran diplomasinya, Kim Jong Un tetap konsisten dalam memperkuat pertahanan nasional. Dalam kongres tersebut, ia menyerukan pengembangan sistem senjata baru yang lebih canggih untuk memperkuat militer Korea Utara.

Berdasarkan laporan dari Korea Central News Agency (KCNA), beberapa fokus utama pengembangan militer Kim meliputi:

1. Rudal Balistik Antarbenua (ICBM): Menetapkan persyaratan bagi rudal yang bisa diluncurkan dari bawah laut.

2. Senjata Nuklir Taktis: Memperluas arsenal nuklir taktis, termasuk artileri dan rudal jarak pendek yang secara spesifik mampu menargetkan Korea Selatan.

3. Status Negara Nuklir: Menegaskan bahwa percepatan pengembangan nuklir dan rudal dalam beberapa tahun terakhir telah memperkuat posisi Korut di kancah regional.

Bagi Kim, senjata nuklir bukan sekadar alat perang, melainkan “jaminan dan alat pengamanan” untuk menjaga stabilitas regional serta kepentingan nasional Korea Utara dari potensi ancaman musuh.

 

Analisis Strategi Independen

Langkah Kim Jong Un ini dipandang sebagai upaya untuk mengubah dinamika tradisional di kawasan tersebut. Dengan mencoba membuka jalur komunikasi langsung ke Washington sambil menutup pintu bagi Seoul, Korea Utara ingin menunjukkan statusnya sebagai kekuatan nuklir yang harus diakui secara mandiri. Strategi ini memaksa dunia internasional untuk melihat Korea Utara bukan lagi sebagai pihak yang bisa ditekan melalui dialog antar-Korea, melainkan sebagai negara berdaulat dengan kekuatan pencegah nuklir yang nyata.

 

Leave a Comment