LOKERSEMARANG.CO.ID-Bulan suci Ramadhan selalu membawa atmosfer spiritual yang kental, di mana setiap malamnya dihiasi dengan lantunan ayat suci Al-Quran melalui salat Tarawih. Tradisi yang paling umum kita saksikan adalah jemaah yang berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan salat malam secara kolektif. Namun, muncul sebuah pertanyaan yang sering kali menjadi kegelisahan bagi sebagian umat Muslim: apakah diperbolehkan melaksanakan salat Tarawih sendiri di rumah?
Dinamika kehidupan modern, kondisi kesehatan, hingga tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan terkadang membuat seseorang berhalangan untuk hadir di masjid. Memahami hukum dan tata cara salat Tarawih secara mandiri menjadi sangat penting agar setiap Muslim tetap bisa meraih keutamaan malam-malam Ramadhan tanpa merasa kehilangan pahala meskipun dilakukan di dalam kediaman masing-masing.
Secara esensi, Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dalam beribadah. Salat Tarawih, sebagai ibadah sunah muakad, memiliki fleksibilitas dalam pelaksanaannya yang didukung oleh dalil-dalil kuat dari sejarah Rasulullah SAW dan pandangan para ulama lintas mazhab.
Menelaah Hukum Tarawih Mandiri dalam Perspektif Fikih
Melaksanakan salat Tarawih secara sendiri atau munfarid hukumnya adalah sah dan diperbolehkan secara syariat. Hal ini didasarkan pada fakta sejarah bahwa Rasulullah SAW sendiri tidak selalu melaksanakan salat malam ini di masjid secara berjemaah. Pada masa itu, beliau terkadang melakukannya di rumah karena khawatir jika salat Tarawih terus-menerus dilakukan secara berjemaah di masjid, umat akan menganggapnya sebagai ibadah yang bersifat wajib.
Para ulama menjelaskan bahwa meskipun salat Tarawih berjemaah di masjid memiliki keutamaan yang besar—terutama dalam syiar agama dan kebersamaan umat—melakukannya di rumah tidak mengurangi keabsahan salat tersebut. Bagi para wanita, orang tua yang sudah lemah, atau mereka yang sedang dalam perjalanan (musafir), mengerjakan Tarawih di rumah bisa menjadi pilihan yang lebih maslahat dan memberikan ketenangan batin.
Bahkan, dalam beberapa pandangan, melakukan salat sunah di rumah memiliki keistimewaan tersendiri dalam menjaga keikhlasan hati dari sifat riya. Rumah yang diisi dengan ruku dan sujud akan memancarkan cahaya keberkahan dan menjadi madrasah spiritual bagi anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk meninggalkan Tarawih hanya karena tidak bisa melaksanakannya di masjid.
Tata Cara dan Niat Salat Tarawih secara Munfarid
Pelaksanaan salat Tarawih di rumah pada dasarnya sama dengan di masjid. Perbedaannya hanya terletak pada niat yang dibaca dan ketiadaan imam di depan. Nasabah dapat memilih jumlah rakaat sesuai dengan kemampuan dan keyakinan, baik itu 8 rakaat maupun 20 rakaat, yang kemudian ditutup dengan salat Witir.
Berikut adalah beberapa hal teknis yang perlu diperhatikan saat mengerjakan Tarawih sendiri:
-
Niat yang Tulus: Niat harus dipasang di dalam hati dengan kesadaran penuh bahwa salat ini dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Pelafalan niat disesuaikan dengan posisi sebagai orang yang salat sendiri (munfarid).
-
Rakaat yang Teratur: Salat dilakukan dengan cara setiap dua rakaat diakhiri dengan satu salam. Konsistensi dalam gerakan dan bacaan akan membantu kekhusyukan ibadah.
-
Pembacaan Surah: Keuntungan salat sendiri adalah kebebasan dalam memilih surah yang ingin dibaca. Anda bisa membaca surah-surah pendek yang sudah dihafal atau membaca surah yang lebih panjang jika ingin memperlama berdiri demi kekhusyukan.
-
Waktu Pelaksanaan: Waktu salat Tarawih dimulai setelah salat Isya hingga sebelum masuk waktu Subuh. Anda bisa melakukannya di awal malam atau memilih di sepertiga malam terakhir agar berdekatan dengan waktu sahur.
Keutamaan Mengidupkan Malam Ramadhan di Rumah
Menghidupkan rumah dengan salat malam memiliki dampak psikologis yang positif. Bagi seorang ibu yang harus menjaga anak-anak, atau seorang pekerja yang baru pulang larut malam, fleksibilitas ini adalah bentuk kasih sayang Allah SWT. Rumah tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga menjadi tempat bersujud yang syahdu.
Salat Tarawih sendiri juga memberikan ruang bagi kita untuk lebih meresapi setiap ayat yang dibaca. Tanpa harus terikat dengan kecepatan imam, kita bisa melakukan ruku, sujud, dan doa di dalam salat dengan durasi yang lebih lama. Momen sunyi di rumah dapat dimanfaatkan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri atas segala dosa dan khilaf yang telah diperbuat.
Selain itu, bagi mereka yang sudah berkeluarga, meskipun dilakukan sendiri, kehadiran orang tua yang sedang salat dapat menjadi teladan yang sangat kuat bagi anak-anak. Hal ini secara tidak langsung menanamkan kecintaan pada ibadah kepada generasi muda sejak dini melalui penglihatan langsung di rumah.
Kesimpulan: Konsistensi adalah Kunci Utama
Hal terpenting dari salat Tarawih bukanlah di mana tempat pelaksanaannya, melainkan bagaimana kita bisa menjaga konsistensi (istiqamah) selama sebulan penuh. Ibadah yang dilakukan sedikit demi sedikit namun rutin jauh lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah yang dilakukan secara besar-besaran namun hanya satu atau dua malam saja.
Jika memang kondisi memungkinkan, pergilah ke masjid untuk mendapatkan pahala jemaah dan mempererat tali silaturahmi. Namun, jika situasi memaksa untuk tetap di rumah, janganlah ragu untuk menghamparkan sajadah dan memulai salat Tarawih sendiri. Pintu rahmat Allah tetap terbuka lebar bagi siapa saja yang mengetuknya dengan penuh keikhlasan, baik di dalam sunyinya rumah maupun di dalam riuhnya jemaah masjid.
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk memperkuat hubungan personal kita dengan Sang Pencipta, di mana pun kita berada. Semoga setiap rakaat yang kita tegakkan menjadi saksi keimanan dan membawa kita pada derajat ketakwaan yang lebih tinggi.
Artikel ditulis oleh: Mokhamad Abdul Hadi