Berkata Kasar Saat Puasa: Apakah Membatalkan atau Mengurangi Pahala?

LOKERSEMARANG.CO.ID-Menjaga Lisan di Bulan Suci: Dampak Berkata Kasar terhadap Kualitas Puasa, Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga petang. Lebih dalam dari itu, puasa adalah madrasah bagi jiwa untuk melatih pengendalian diri secara menyeluruh, termasuk mengontrol lisan. Namun, dalam dinamika kehidupan sehari-hari, sering kali tekanan pekerjaan atau kemacetan di jalan memicu emosi yang berujung pada ucapan kasar atau makian.

Muncul pertanyaan mendasar di tengah masyarakat: bagaimanakah hukumnya berkata kasar saat sedang berpuasa? Apakah tindakan tersebut secara otomatis membatalkan puasa secara syariat, ataukah ada konsekuensi lain yang memengaruhi nilai spiritual dari ibadah yang tengah dijalankan? Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan penjelasan komprehensif untuk mendudukkan perkara ini sesuai dengan tuntunan agama.

Antara Syarat Sah dan Kualitas Ibadah

Secara hukum fikih, berkata kasar, berbohong, atau memaki tidak termasuk dalam daftar hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik. Artinya, seseorang yang terlanjur mengucapkan kata-kata kotor tidak diwajibkan untuk mengganti (qadha) puasanya karena puasanya secara teknis tetap dianggap sah selama ia tidak makan, minum, atau melakukan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya.

Namun, para ulama menekankan adanya perbedaan besar antara “puasa yang sah” dengan “puasa yang diterima”. Berkata kasar masuk dalam kategori perbuatan yang dapat merusak kualitas puasa. Dalam konteks ini, puasa seseorang bisa kehilangan esensi spiritualnya, sehingga ia hanya mendapatkan rasa lapar dan haus tanpa mendapatkan pahala di sisi Tuhan.

Perspektif MUI: Puasa sebagai Perisai Akhlak

Pihak MUI menjelaskan bahwa puasa seharusnya berfungsi sebagai perisai (junnah). Sebagaimana pesan dalam berbagai riwayat, jika seseorang sedang berpuasa, hendaknya ia tidak berucap keji (rafats) dan tidak bertindak bodoh. Bahkan, jika ada orang lain yang memancing emosi atau mencaci makinya, seorang yang berpuasa dianjurkan untuk merespons dengan kalimat, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Lisan yang tidak terjaga mencerminkan kegagalan dalam mengendalikan nafsu amarah, yang merupakan salah satu musuh utama dalam berpuasa. Oleh karena itu, berkata kasar dianggap sebagai perbuatan yang sangat merugikan diri sendiri karena dapat menghapus keberkahan ibadah yang telah dilakukan dengan susah payah sejak terbit fajar.

Dampak Psikologis dan Sosial Lisan yang Tak Terjaga

Secara morfologis, kata-kata yang keluar dari mulut adalah representasi dari kondisi hati. Berkata kasar saat puasa tidak hanya berdampak pada nilai pahala, tetapi juga pada hubungan sosial. Ramadhan adalah momentum untuk mempererat silaturahmi dan menebar kedamaian. Ucapan yang menyakitkan hati orang lain justru bertentangan dengan semangat rekonsiliasi dan kesucian bulan ini.

Secara psikologis, membiasakan diri berkata baik saat lapar melatih otak untuk tetap berpikir jernih di bawah tekanan. Jika seseorang mampu melewati tantangan ini selama satu bulan penuh, ia akan memiliki ketahanan mental dan kecerdasan emosional yang lebih baik setelah Ramadhan berakhir. Inilah esensi dari transformasi karakter yang diharapkan dari ibadah puasa.

Strategi Menjaga Lisan di Saat Emosi

Menahan amarah saat perut kosong memang bukan perkara mudah. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan agar lisan tetap terjaga selama berpuasa:

  • Berhenti Sejenak: Saat emosi mulai memuncak, ambillah jeda sejenak sebelum berbicara. Memberikan waktu beberapa detik bagi otak untuk berpikir dapat mencegah keluarnya kata-kata kasar secara spontan.

  • Mengingat Esensi Puasa: Ingatlah bahwa setiap makian yang keluar berpotensi menghanguskan pahala puasa yang sedang dijalankan.

  • Memperbanyak Zikir: Mengalihkan fungsi lisan untuk berzikir atau membaca Al-Qur’an secara otomatis akan mempersempit ruang bagi lisan untuk berucap buruk.

  • Menghindari Pemicu: Jika tahu bahwa media sosial atau percakapan tertentu dapat memancing emosi, sebaiknya batasi interaksi tersebut selama waktu berpuasa.

Puasa Lahir dan Batin

Puasa yang sempurna adalah puasa yang melibatkan seluruh anggota tubuh. Mata berpuasa dari melihat yang tidak baik, telinga berpuasa dari mendengar ghibah, dan lisan berpuasa dari ucapan kasar serta dusta. Menjaga lisan adalah ujian kejujuran seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya secara totalitas, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Dengan memahami bahwa berkata kasar dapat merusak nilai ibadah, diharapkan kita semua dapat lebih berhati-hati dalam bertutur kata. Jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk mencuci lisan dan hati, sehingga saat Idulfitri tiba, kita benar-benar kembali ke fitrah dalam keadaan bersih secara lahiriah maupun batiniah.

Artikel Ditulis Oleh: Mokhamad Abdul Hadi

Leave a Comment