LOKERSEMARANG.CO.ID-Panduan Cermat Membeli Pelek Mobil Bekas, Mengganti pelek merupakan langkah paling instan dan efektif untuk mengubah karakter visual sebuah kendaraan. Bagi banyak pemilik mobil, pelek bukan sekadar komponen fungsional, melainkan pernyataan gaya yang mencerminkan kepribadian pemiliknya. Namun, harga pelek baru berkualitas orisinal sering kali cukup merogoh kocek dalam, sehingga pasar pelek bekas atau secondhand menjadi alternatif yang sangat menggiurkan.
Membeli pelek bekas memang bisa menghemat anggaran secara signifikan, namun aktivitas ini menyimpan risiko yang tidak boleh disepelekan. Pelek adalah komponen vital kaki-kaki yang menopang seluruh bobot kendaraan sekaligus menjadi tumpuan utama ban dalam menyalurkan tenaga ke jalan. Pelek yang cacat, meski sekilas terlihat berkilau, dapat menjadi sumber bahaya mematikan di jalan raya. Oleh karena itu, diperlukan ketelitian tinggi dan pemahaman teknis sebelum memutuskan untuk membayar sepeser pun kepada penjual.
Pemeriksaan Fisik: Mendeteksi Cacat Tersembunyi
Langkah pertama dalam memilih pelek bekas adalah melakukan inspeksi visual secara menyeluruh di bawah cahaya yang terang. Jangan melakukan pemeriksaan di tempat remang-remang karena detail keretakan halus sering kali luput dari pandangan. Perhatikan dengan saksama setiap palang (spoke) dan bibir pelek. Fokus utama Anda adalah mencari adanya keretakan. Retakan sekecil helai rambut pada struktur pelek adalah tanda bahaya besar; pelek tersebut sudah kehilangan integritas strukturnya dan sangat berisiko patah saat menghantam lubang atau melaju dalam kecepatan tinggi.
Selain retak, waspadai adanya bekas las-lasan. Pelek yang pernah retak parah kemudian diperbaiki dengan las babet sering kali memiliki titik lemah baru. Secara estetika, bekas perbaikan ini mungkin tertutup rapi oleh cat baru (repaint). Namun, jika Anda melihat tekstur cat yang tidak merata di bagian dalam pelek atau adanya bekas bubutan yang tidak wajar pada bibir pelek, sebaiknya segera batalkan niat untuk membeli. Pelek yang sudah mengalami perbaikan berat biasanya tidak akan pernah kembali ke kekuatan dan keseimbangan (balance) aslinya.
Menguji Kepresisian: Masalah “Peyang” dan Oleng
Musuh terbesar pelek bekas adalah kondisi yang tidak bulat sempurna atau sering disebut “peyang”. Hal ini biasanya terjadi karena mobil sebelumnya menghantam benda keras atau lubang jalanan dengan kecepatan tinggi. Pelek yang peyang, meski hanya sedikit, akan menyebabkan getaran yang terasa hingga ke setir kemudi saat mobil dipacu. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan merusak komponen kaki-kaki lainnya seperti bearing roda dan tierod.
Cara paling akurat untuk mendeteksi peyang adalah dengan membawa pelek tersebut ke mesin balancing. Mintalah penjual untuk memutar pelek di atas mesin tersebut tanpa ban. Perhatikan pergerakan bibir pelek secara horizontal dan vertikal. Jika terlihat gerakan naik-turun atau bergoyang ke samping (oleng), berarti pelek tersebut sudah tidak presisi. Hindari pelek dengan kondisi seperti ini, karena biaya perbaikan pelek agar kembali senter cukup mahal dan hasilnya sering kali tidak bisa sempurna 100%.
Membedakan Orisinalitas dan Memahami Spesifikasi
Di pasar barang bekas, Anda akan menemui banyak pelek merek ternama seperti BBS, Rays, atau Enkei dengan harga yang sangat miring. Di sinilah Anda harus waspada terhadap pelek replika atau “TW”. Pelek replika diproduksi dengan metode cor (casting) yang kualitas materialnya jauh di bawah standar pelek orisinal (terutama pelek orisinal forged). Pelek replika cenderung lebih berat dan jauh lebih rapuh. Periksa cetakan timbul (emboss) di bagian belakang palang. Pelek orisinal biasanya mencantumkan negara pembuat (misalnya Made in Japan atau Made in Germany), merek, serta spesifikasi beban maksimal secara rapi dan tegas.
Selain keaslian, pastikan spesifikasi pelek tersebut cocok dengan mobil Anda. Ada dua angka krusial: PCD (Pitch Circle Diameter) dan Offset (ET). PCD adalah jarak antar lubang baut; jika mobil Anda memiliki PCD 4×100, jangan paksa memasang pelek 4×114,3 meski menggunakan adaptor karena dapat mengubah geometri kaki-kaki. Sementara itu, offset menentukan seberapa masuk atau keluarnya pelek dari spakbor. Pelek dengan offset terlalu kecil akan membuat ban “nongol” keluar dan berisiko mentok spakbor, sedangkan offset terlalu besar bisa membuat pelek mentok ke sokbreker.
Kesimpulan: Utamakan Keselamatan di Atas Estetika
Membeli pelek bekas adalah seni mengelola risiko demi mendapatkan tampilan mobil impian. Namun, jangan pernah biarkan keinginan untuk tampil keren mengalahkan pertimbangan keselamatan. Harga pelek yang jauh di bawah pasaran biasanya membawa pesan tersurat tentang kondisinya yang kurang prima. Jika Anda ragu, mengajak teman yang ahli otomotif atau melakukan transaksi di toko pelek terpercaya yang memberikan garansi adalah langkah yang bijak.
Ingatlah bahwa pelek adalah satu-satunya komponen yang menyambungkan mobil Anda dengan ban yang menyentuh tanah. Memastikan pelek bekas yang Anda beli dalam kondisi prima bukan hanya tentang menghemat uang perawatan, tetapi juga tentang menjaga nyawa Anda dan penumpang di dalam kabin.
Artikel ditulis oleh: Mokhamad Abdul Hadi