LOKERSEMARANG.CO.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat pagi, 27 Februari 2026. Mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp16.700-an per dolar AS setelah bergerak stabil di level yang sama pada penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar valuta asing yang masih dipengaruhi oleh penguatan dolar serta sentimen global yang kompleks.
Pergerakan nilai tukar ini terjadi pada perdagangan akhir pekan, saat investor kembali mencermati kondisi ekonomi global dan domestik yang mempengaruhi permintaan terhadap aset-aset safe haven, termasuk dolar AS.
Pembukaan Transaksi dan Angka Pergerakan
Pada awal perdagangan hari ini, rupiah dibuka melemah di kisaran Rp16.755 per dolar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan posisi penutupan Rp16.750 pada hari Kamis sebelumnya. Pelemahan ini sejalan dengan data Bloomberg yang mengindikasikan tren penguatan dolar terhadap rupiah sejak pembukaan pasar.
Pergerakan ini menempatkan rupiah berada dalam tekanan di zona Rp16.700-an hingga Rp16.780 per dolar, tergantung pada data pasar spot dan sentimen investor sepanjang sesi pagi. Bahkan menurut laporan lainnya, nilai tukar sempat menunjukkan level sekitar Rp16.788 per dolar pada pagi ini, menunjukkan volatilitas yang relatif signifikan.
Faktor Penguatan Dolar AS
Beberapa faktor global memberi dorongan terhadap dolar AS sehingga menekan rupiah. Data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kinerja sektor manufaktur dan pasar tenaga kerja yang kuat membuat investor kembali menarik modal ke aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar, yang kemudian memperlemah mata uang negara berkembang.
Selain itu, sentimen geopolitik juga mempengaruhi dinamika pasar. Ketidakpastian di level internasional mendorong pelaku pasar untuk mencari aset safe haven seperti obligasi dan mata uang utama AS. Dalam situasi seperti ini, permintaan terhadap dolar cenderung meningkat, sehingga memberikan tekanan pada rupiah dan mata uang lain di kawasan Asia.
Pola Perdagangan dan Sentimen Pasar
Rupiah yang membuka perdagangan dalam kondisi melemah ini bukanlah peristiwa tunggal. Indikasi tekanan terhadap rupiah juga tercermin di pasar spot dan kurs acuan Bank Indonesia. Data JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) menunjukkan rupiah bergerak melemah dibanding hari sebelumnya, menandakan tren yang masih berfluktuasi meskipun tidak ekstrem.
Analis pasar uang memandang bahwa sentimen global dan tekanan eksternal seperti geopolitik, kondisi ekonomi AS, serta arus modal asing turut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Pada hari tertentu, dolar bisa menguat lebih tinggi lagi jika data fundamental di AS menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih baik dari yang diperkirakan.
Pengamatan Bank Indonesia
Bank Indonesia dalam publikasi indikator stabilitas rupiah juga mencatat perkembangan nilai tukar tersebut. Dalam siaran pers terbaru, rupiah dibuka pada level bid yang menyentuh sekitar Rp16.750 per dolar, sementara yield SBN 10 tahun turun sedikit. Bank sentral menegaskan koordinasi kebijakan untuk mendukung stabilitas eksternal menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi gejolak global serta tekanan pasar.
Strategi bauran kebijakan ini mencakup pengawasan ketat terhadap aliran modal asing, pengelolaan cadangan devisa, serta dukungan terhadap pasar valas agar fluktuasi rupiah lebih terkendali.
Proyeksi Perdagangan Akhir Pekan
Menjelang akhir pekan, tren pergerakan rupiah masih diperkirakan fluktuatif, dengan tekanan utama berasal dari kekuatan dolar dan sentimen global. Dalam beberapa laporan pasar, nilai tukar diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.700-an hingga Rp16.800-an per dolar AS, sesuai dengan dinamika supply-demand di pasar valas.
Investor juga mencermati perkembangan risiko global lainnya, termasuk isu geopolitik dan rencana kebijakan moneter di negara maju, yang berpotensi terus memberi tekanan pada mata uang negara berkembang.