Momen Tegang Mahasiswa Bentak Polisi saat Demo di Mabes Polri

LOKERSEMARANG.CO.ID-Momen Mahasiswa Konfrontasi Aparat saat Demo di Mabes Polri, Suasana di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) mendadak mencekam pada Jumat sore, 27 Februari 2026. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam elemen aliansi nasional menggelar aksi unjuk rasa untuk menyuarakan kritik tajam terhadap kinerja institusi kepolisian. Namun, yang mencuri perhatian publik bukanlah sekadar tuntutan yang dibawa, melainkan sebuah momen provokatif di mana salah seorang orator mahasiswa tampak menunjuk-nunjuk dan berteriak tepat di hadapan barisan aparat yang berjaga.

Insiden tersebut menjadi puncak dari eskalasi emosi massa aksi yang merasa aspirasi mereka tidak segera ditanggapi oleh perwakilan pejabat Mabes Polri. Ketegangan ini mencerminkan dinamika hubungan antara kaum intelektual muda dan aparat penegak hukum yang sering kali berada di titik didih saat isu-isu sensitif mengenai keadilan sosial dan penegakan hukum mencuat ke permukaan.

Meskipun situasi sempat memanas, pengamanan ketat dari personel kepolisian tetap dilakukan guna mencegah terjadinya kericuhan yang lebih luas di jalur protokol tersebut. Rekaman video mengenai kejadian ini pun dengan cepat tersebar di media sosial, memicu beragam reaksi dari warganet.

Kronologi Kejadian: Dari Orasi hingga Konfrontasi

Aksi unjuk rasa dimulai dengan tertib sejak pukul 14.00 WIB. Massa membawa berbagai spanduk yang berisi kritik mengenai sejumlah kasus hukum yang dinilai jalan di tempat serta dugaan represi oknum aparat di daerah. Namun, setelah hampir dua jam berorasi di bawah terik matahari tanpa adanya perwakilan Polri yang menemui, massa mulai merangsek maju ke arah gerbang utama.

Momen puncak terjadi ketika barisan polisi membentuk barikade manusia (lapis betis) untuk menahan massa. Di sinilah salah seorang perwakilan mahasiswa, dengan suara lantang melalui pengeras suara, maju hingga berjarak sangat dekat dengan petugas. Ia berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah wajah personel kepolisian, menuding bahwa aparat sering kali lupa akan tugasnya sebagai pelayan dan pelindung masyarakat.

Aparat yang berada di baris depan tampak tetap tenang dan berupaya menahan emosi meski mendapatkan tekanan verbal yang sangat kuat. Tidak ada tindakan fisik yang dilaporkan dalam momen tersebut, namun suasana saling tatap dengan intensitas tinggi membuat situasi terasa sangat rapuh.

Tuntutan Utama Massa Aksi

Dalam orasi yang diselingi teriakan tersebut, mahasiswa menyampaikan beberapa poin krusial yang menjadi landasan aksi mereka di Mabes Polri:

  • Transparansi Kasus Sensitif: Mendesak kepolisian untuk membuka secara transparan perkembangan kasus-kasus yang melibatkan pejabat atau oknum yang selama ini dinilai tertutup dari pantauan publik.

  • Reformasi Internal: Menuntut evaluasi total terhadap standar operasional prosedur (SOP) kepolisian dalam menangani aksi masa di tingkat daerah.

  • Keadilan bagi Rakyat Kecil: Menyuarakan keprihatinan atas kasus-kasus hukum yang menimpa masyarakat kelas bawah yang dinilai diproses lebih cepat dibandingkan kasus yang melibatkan “orang kuat”.

Mahasiswa menegaskan bahwa tindakan mereka yang berteriak dan menunjukkan kemarahan adalah simbol dari rasa frustrasi rakyat yang merasa suaranya tidak lagi didengar melalui jalur-jalur formal.

Perspektif Keamanan dan Kebebasan Berpendapat

Pihak kepolisian yang bertugas mengamankan aksi menyatakan bahwa pihaknya menghargai kebebasan berpendapat yang merupakan hak setiap warga negara. Namun, mereka juga menyayangkan adanya tindakan provokatif yang dapat memicu gesekan fisik yang membahayakan baik bagi peserta aksi maupun petugas di lapangan.

Kepala pengamanan objek vital di lokasi menyampaikan bahwa tindakan mahasiwa yang berteriak di depan wajah petugas merupakan bagian dari dinamika lapangan yang harus disikapi secara profesional. Petugas diinstruksikan untuk tidak terpancing selama massa tidak melakukan tindakan anarkis seperti perusakan fasilitas atau penganiayaan fisik.

Polisi mengimbau agar setiap elemen masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat dapat melakukannya dengan cara-cara yang lebih santun dan konstruktif, agar substansi dari pesan yang ingin disampaikan tidak tertutup oleh perilaku yang emosional.

Kesimpulan: Ujian bagi Demokrasi dan Kedewasaan Bernegara

Momen mahasiswa yang berteriak ke arah polisi di Mabes Polri menjadi simbol dari tantangan demokrasi di Indonesia. Di satu sisi, mahasiswa menunjukkan keberanian luar biasa dalam mengontrol jalannya kekuasaan melalui fungsi kontrol sosial. Di sisi lain, cara penyampaian yang konfrontatif menunjukkan betapa dalamnya jurang kepercayaan yang ada saat ini.

Kejadian ini diharapkan tidak hanya berhenti pada viralitas video di media sosial, namun menjadi bahan evaluasi serius bagi institusi Polri untuk memperbaiki komunikasi publiknya. Begitu juga bagi gerakan mahasiswa, agar tetap menjaga esensi perjuangan tanpa harus tergelincir pada tindakan yang bisa mencederai marwah gerakan itu sendiri.

Artikel ditulis oleh: Mokhamad Abdul Hadi

Leave a Comment