LOKERSEMARANG.CO.ID-Indonesia Dorong Dialog Strategis Akhiri Perang Pakistan-Afghanistan, Situasi keamanan di perbatasan Asia Selatan mencapai titik kritis seiring dengan meningkatnya eskalasi militer dalam perang antara Pakistan dan Afghanistan pada awal tahun 2026. Menanggapi kondisi yang mengancam stabilitas regional tersebut, Pemerintah Indonesia secara tegas mengambil posisi sebagai jembatan perdamaian. Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia mendorong dilakukannya dialog inklusif guna menghentikan pertumpahan darah dan mencari solusi diplomatik atas sengketa wilayah serta keamanan lintas batas.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pemegang mandat konstitusi untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia, Indonesia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meredam ketegangan di antara dua negara bersaudara tersebut. Langkah ini mencerminkan prinsip politik luar negeri “Bebas Aktif” yang konsisten diusung Indonesia dalam menghadapi krisis internasional.
Upaya diplomasi ini tidak hanya berfokus pada penghentian kontak senjata, tetapi juga menyoroti pentingnya penanganan krisis kemanusiaan yang mulai meluas di zona konflik. Indonesia meyakini bahwa kekuatan militer tidak akan pernah bisa menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan tanpa adanya kesepahaman di meja perundingan.
Peran Indonesia sebagai Mediator yang Netral dan Dipercaya
Posisi Indonesia yang netral dan memiliki hubungan baik dengan Islamabad maupun Kabul menjadi modal sosial yang sangat berharga. Dalam berbagai forum internasional, Indonesia secara konsisten menyerukan agar kedua belah pihak menahan diri dan kembali ke koridor hukum internasional serta kesepakatan-kesepakatan perbatasan yang ada.
Beberapa langkah konkret yang diupayakan Indonesia antara lain:
-
Inisiasi Pertemuan Trilateral: Mendorong adanya pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan tokoh ulama dan diplomat dari ketiga negara untuk mencari titik temu dari perspektif nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan.
-
Pemanfaatan Forum Multilateral: Membawa isu ini ke meja PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) guna mendapatkan dukungan kolektif dari komunitas internasional untuk menekan eskalasi perang.
-
Bantuan Teknis Diplomasi: Menawarkan pengalaman Indonesia dalam menyelesaikan konflik internal dan sengketa perbatasan sebagai studi kasus yang bisa diadaptasi di kawasan tersebut.
Indonesia memahami bahwa akar konflik di perbatasan Pakistan-Afghanistan sangatlah kompleks, namun dialog adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai kekerasan yang telah mengorbankan ribuan warga sipil.
Krisis Kemanusiaan dan Dampak Pengungsian Lintas Batas
Perang yang pecah pada awal 2026 ini telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran yang mengarah ke wilayah-wilayah yang lebih aman. Kondisi ini menciptakan beban baru bagi ketahanan pangan dan kesehatan di kawasan Asia Selatan. Indonesia, melalui lembaga kemanusiaan dan jalur diplomasi resmi, juga tengah mempertimbangkan pengiriman bantuan logistik untuk para pengungsi.
Fokus Indonesia dalam dialog ini juga mencakup aspek perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan dalam konflik bersenjata. Indonesia mendorong agar koridor kemanusiaan tetap dibuka seluas-luasnya guna memastikan bantuan medis dan makanan dapat menjangkau mereka yang terjebak di zona merah.
Diplomasi kesehatan dan pendidikan yang selama ini dibangun Indonesia di Afghanistan diharapkan dapat menjadi “pintu masuk” yang lunak (soft power) untuk melunakkan ketegangan di antara pihak-pihak yang bertikai.
Harapan bagi Stabilitas Regional dan Dunia
Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan bukan hanya masalah dua negara, melainkan ancaman nyata bagi keamanan global. Ketidakstabilan di kawasan ini dapat memicu bangkitnya sel-sel radikalisme dan mengganggu jalur perdagangan energi serta logistik internasional di Asia Tengah.
Indonesia menyerukan kepada kekuatan-kekuatan besar dunia untuk tidak menjadikan konflik ini sebagai ladang perang proksi (proxy war), melainkan bersatu untuk mendukung upaya mediasi yang dipimpin oleh negara-negara di kawasan yang memiliki kedekatan kultural. Keberhasilan dialog ini nantinya diharapkan dapat menjadi standar baru bagi penyelesaian konflik melalui jalur damai di era modern.
Kesimpulan: Komitmen Tanpa Henti untuk Perdamaian
Langkah Indonesia mendorong dialog antara Pakistan dan Afghanistan pada Februari 2026 ini menegaskan komitmen Indonesia sebagai “Real Partner” bagi perdamaian dunia. Diplomasi yang dijalankan bukan sekadar pernyataan retoris, melainkan langkah nyata untuk menyelamatkan nyawa dan menjaga marwah kemanusiaan.
Dunia kini menanti kesediaan para pemimpin di Islamabad dan Kabul untuk menyambut uluran tangan perdamaian ini. Bagi Indonesia, perjuangan untuk mendamaikan sesama adalah amanah sejarah yang akan terus diperjuangkan hingga terciptanya harmoni di bumi Asia Selatan.
Artikel ditulis oleh: Mokhamad Abdul Hadi