LOKERSEMARANG.CO.ID-Di Balik Kejayaan Ring Gulat Menguak Fakta Kelam Keluarga Von Erich dalam The Iron Claw, Film The Iron Claw (2026) kembali menjadi perbincangan hangat karena keberhasilannya memotret salah satu dinasti paling berpengaruh sekaligus paling tragis dalam sejarah gulat profesional dunia: keluarga Von Erich. Di balik lampu panggung yang terang dan sorak-sorai penonton, tersimpan narasi kelam yang sering disebut publik sebagai “Kutukan Von Erich”.
Film ini tidak hanya menampilkan aksi fisik yang memukau, tetapi juga menggali luka emosional sebuah keluarga yang dihancurkan oleh ambisi, tekanan mental, dan rentetan kematian dini yang tidak wajar. Bagi penonton, The Iron Claw adalah sebuah pengingat pahit bahwa kesuksesan yang dibangun di atas obsesi tanpa batas sering kali harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Berikut adalah narasi mendalam mengenai fakta-fakta kelam di dunia nyata yang melatarbelakangi kisah keluarga Von Erich dalam film tersebut.
1. Ambisi Besi Fritz Von Erich
Pusat dari segala tragedi ini adalah sang ayah, Fritz Von Erich (lahir sebagai Jack Adkisson). Fritz adalah seorang pegulat legendaris yang menciptakan jurus mematikan “The Iron Claw”. Namun, di luar ring, ia adalah sosok ayah yang sangat otoriter. Fritz memiliki obsesi agar semua anak laki-lakinya menjadi juara dunia gulat. Ia menciptakan iklim kompetisi di antara saudara kandung, di mana kasih sayangnya sering kali bergantung pada seberapa hebat mereka di atas ring. Tekanan inilah yang menjadi akar dari rapuhnya kondisi mental anak-anaknya.
2. Rentetan Kematian yang Menyayat Hati
Dari enam anak laki-laki Fritz, hanya satu yang berhasil bertahan hidup hingga usia tua, yaitu Kevin Von Erich. Fakta kelam yang ditampilkan dalam film maupun sejarah nyata adalah bagaimana maut menjemput saudara-saudaranya secara beruntun:
-
Jack Jr.: Anak sulung yang meninggal di usia 6 tahun karena tersengat listrik dan tenggelam.
-
David: Meninggal secara misterius saat tur di Jepang (diduga karena penyakit usus, meski banyak spekulasi lain).
-
Kerry, Mike, dan Chris: Ketiganya mengakhiri hidup mereka sendiri (bunuh diri) akibat tekanan depresi, cedera fisik yang parah, dan rasa gagal memenuhi ekspektasi sang ayah.
3. Kutukan yang Menjadi Stigma
Masyarakat dan media pada masa itu mulai menyebut keluarga ini “dikutuk”. Namun, Kevin Von Erich sering kali membantah istilah tersebut dalam berbagai wawancara. Baginya, apa yang terjadi bukanlah kutukan supranatural, melainkan rangkaian nasib buruk dan masalah kesehatan mental yang tidak tertangani dengan baik di era tersebut. Film The Iron Claw dengan sangat berani menunjukkan bagaimana stigma kutukan ini menghantui pikiran para saudara yang masih hidup, membuat mereka merasa maut selalu mengintai di setiap langkah.
4. Pengabaian Kesehatan Mental demi Reputasi
Fakta kelam lainnya adalah bagaimana masalah kesehatan mental dianggap tabu dalam keluarga ini. Mike Von Erich, misalnya, dipaksa kembali ke ring tak lama setelah menderita sindrom syok toksik yang merusak otaknya. Kerry Von Erich terus bergulat dengan satu kaki yang diamputasi (akibat kecelakaan motor) tanpa memberitahu publik, demi menjaga citra keluarga yang “tak terkalahkan”. Penyamaran rasa sakit fisik dan mental ini menjadi bom waktu yang akhirnya meledak satu per satu.
Kesimpulan: Sebuah Pesan tentang Kemanusiaan di Atas Kemenangan
The Iron Claw bukan sekadar film biografi olahraga; ini adalah sebuah tragedi Yunani modern dalam balutan kostum gulat. Fakta-fakta kelam keluarga Von Erich memberikan pelajaran berharga bagi penonton tahun 2026 tentang pentingnya memprioritaskan kesehatan mental dan kasih sayang keluarga di atas ambisi duniawi.
Melalui karakter Kevin Von Erich, kita diajarkan tentang ketangguhan untuk tetap bertahan hidup meski telah kehilangan segalanya. Dinasti Von Erich mungkin telah hancur, namun kisah mereka tetap abadi sebagai pengingat akan sisi gelap dari sebuah kejayaan.
Artikel ditulis oleh: Mokhamad Abdul Hadi