LOKERSEMARANG.CO.ID – Peta kekuatan Formula 1 menjelang musim 2026 mengalami pergeseran drastis yang cukup mengejutkan banyak pihak. McLaren, tim yang kini berstatus sebagai juara bertahan konstruktor, secara terbuka mulai mengalihkan pandangannya dari sang rival lama, Red Bull Racing. Fokus utama tim asal Woking tersebut kini tertuju pada kebangkitan dua raksasa otomotif lainnya: Ferrari dan Mercedes.
Perubahan regulasi besar-besaran yang akan diterapkan pada 2026 menjadi pemicu utama ketidakpastian ini. Era baru yang menitikberatkan pada teknologi unit daya (power unit) hibrida yang lebih berkelanjutan dan aerodinamika aktif telah memaksa seluruh tim untuk memulai dari titik nol. Dalam situasi transisi ini, McLaren mendeteksi adanya sinyal kuat bahwa “Si Kuda Jingkrak” dan “The Silver Arrows” telah menemukan momentum yang lebih solid dibandingkan Red Bull.
Pergeseran Dominasi di Tengah Regulasi Baru
CEO McLaren, Zak Brown, mengungkapkan bahwa hasil pemantauan selama sesi pramusim menunjukkan performa yang sangat impresif dari Ferrari dan Mercedes. Menurutnya, kedua tim tersebut terlihat sangat siap dengan paket mobil terbarunya. Keunggulan ini tidak hanya terlihat dari catatan waktu satu putaran, tetapi juga stabilitas kendaraan saat simulasi balap yang panjang.
Hal ini cukup kontras dengan situasi Red Bull Racing yang selama beberapa tahun terakhir mendominasi lintasan. Meskipun mereka tetap memiliki sosok juara dunia seperti Max Verstappen, ada indikasi bahwa transisi mesin menuju Red Bull Powertrains (RBPT) yang bekerja sama dengan Ford menghadapi tantangan teknis yang lebih kompleks. Ketidakpastian mengenai keandalan mesin baru ini membuat banyak pengamat mulai mempertanyakan apakah Red Bull bisa mempertahankan takhtanya di tahun 2026.
Ferrari dan Mercedes Kembali Menjadi Tolak Ukur
Ferrari menunjukkan kemajuan signifikan dengan proyek mobil mereka yang berkode internal 678. Kehadiran Lewis Hamilton yang bergabung dengan tim asal Maranello tersebut memberikan suntikan motivasi dan perspektif teknis baru yang sangat berharga. Kombinasi Hamilton dan Charles Leclerc dianggap sebagai salah satu duet pembalap terkuat yang pernah dimiliki Ferrari dalam satu dekade terakhir.
Di sisi lain, Mercedes seolah menemukan kembali “sentuhan emas” mereka yang sempat hilang. Inovasi pada sistem kelistrikan dan integrasi unit daya terbaru mereka dikabarkan menjadi yang paling efisien di antara produsen mesin lainnya. Fakta bahwa McLaren sendiri merupakan pengguna mesin Mercedes memberikan mereka akses data yang cukup untuk menyadari betapa kuatnya potensi mesin W17 milik pabrikan Jerman tersebut.
Strategi McLaren Menghadapi “Empat Besar”
Meskipun menyadari kekuatan para rivalnya, McLaren tidak lantas merasa inferior. Andrea Stella selaku Team Principal menegaskan bahwa McLaren saat ini berada di posisi empat besar tim terdepan. Mereka memilih untuk bersikap realistis namun optimistis. Target utama mereka bukan lagi sekadar mengejar Red Bull, melainkan memastikan mereka mampu bersaing setara dengan Mercedes dan Ferrari sejak seri pembuka di Australia.
Pengembangan internal McLaren di markas Woking terus dipacu untuk menutupi celah performa yang mungkin muncul di awal musim. Fokus mereka kini terbagi antara memaksimalkan potensi mesin dari Mercedes dan menyempurnakan aerodinamika mobil MCL40 agar tetap lincah di tikungan namun tetap efisien di lintasan lurus.
Peta persaingan F1 2026 tampaknya tidak akan lagi menjadi balapan satu kuda. Dengan bangkitnya Ferrari dan Mercedes, serta McLaren yang semakin matang sebagai juara bertahan, para penggemar balap jet darat ini bisa mengharapkan musim yang jauh lebih kompetitif dan sulit ditebak hasilnya hingga garis finis terakhir.