Bek Almería Berdarah Maluku Siap Jadi Penerus Kevin Diks di Timnas Indonesia

LOKERSEMARANG.CO.ID – Nama Daijiro Chirino semakin santer diperbincangkan di kalangan sepak bola Indonesia. Bek kanan berusia 23 tahun ini bukan hanya menunjukkan performa yang menjanjikan di UD Almería, tetapi juga memenuhi syarat regulasi FIFA untuk kemungkinan bergabung dengan Timnas Indonesia melalui naturalisasi.

Chirino menjadi salah satu talenta diaspora yang menarik perhatian pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, terutama karena potensinya untuk menjadi penerus jangka panjang bagi Kevin Diks di sektor pertahanan kanan skuad Garuda.

Keturunan yang Membuka Peluang Naturalisasi

Yang membuat Daijiro Chirino begitu relevan bagi sepak bola Indonesia adalah latar belakang keturunannya. Dari pihak ibu, ia memiliki darah Maluku, dengan kakek berasal dari Saparua dan neneknya dari Ihamahu. Meski besar di Eropa, darah Indonesia tetap mengalir dalam garis leluhur pemain ini, yang berarti peluang untuk membela Merah Putih masih terbuka lebar.

Chirino memang memiliki latar belakang sepak bola yang kuat di Eropa. Lahir pada 24 Januari 2002 di Zwolle, Belanda, ia tumbuh melalui akademi sepak bola Belanda dan membangun karier di klub profesional. Hingga November 2025, ia sudah tampil sebanyak 13 kali untuk Almería di LaLiga 2, mencetak tiga gol dari lini belakang, suatu prestasi yang cukup menarik untuk seorang bek.

Meski memiliki darah Belanda dan Curacao, Chirino belum pernah mencatatkan penampilan resmi di tim senior Curacao ataupun negara lain. Artinya, secara peraturan FIFA, ia masih dapat memilih untuk memperkuat tim nasional lain di level senior, termasuk Indonesia.

Performa yang Menarik Perhatian Klub dan Negara

Chirino dikenal sebagai bek modern yang tidak hanya andal dalam duel fisik dan disiplin pertahanan, tetapi juga mampu mendukung serangan dari sisi kanan. Ia termasuk tipe pemain yang aktif membantu build-up permainan dari belakang, layaknya bek sayap dalam sistem sepak bola modern.

Performa tersebut tercermin dari nilai pasarnya yang sekitar Rp26,07 miliar menurut data yang tercatat di Transfermarkt, sebuah angka yang mencerminkan konsistensi dan kualitasnya bermain di kompetisi ketat seperti liga Spanyol kasta kedua.

Bagi Timnas Indonesia, profil seperti Chirino tinggi nilainya. Garis keturunan yang jelas, status eligibility menurut FIFA, serta kualitas permainan di Eropa memberikan kombinasi yang jarang dimiliki oleh talenta lain yang berada di luar negeri. Hal inilah yang membuat namanya menjadi topik hangat di kalangan pencinta sepak bola Indonesia menjelang agenda internasional penting seperti FIFA Series 2026 dan kualifikasi kompetisi besar lainnya.

Suksesor Kevin Diks di Garuda?

Saat ini, posisi bek kanan Timnas Indonesia masih diisi pemain berpengalaman seperti Kevin Diks, yang performanya juga kerap menjadi sorotan. Meskipun demikian, tim nasional selalu membutuhkan opsi tambahan yang berkualitas untuk menjaga kedalaman skuad jangka panjang, baik untuk kompetisi regional maupun level dunia.

Dengan usia yang masih muda, 23 tahun, Chirino berada dalam fase karier yang ideal untuk berkembang lebih jauh. Jika proses komunikasi dan naturalisasi berjalan lancar, ia berpotensi menjadi pilar penting bagi lini belakang Garuda di masa depan dengan kemampuan yang relevan terhadap kebutuhan taktik modern.

Potensi ini diperkuat oleh performanya di level klub, yang membuatnya masuk radar pengamat sepak bola yang memantau perkembangan bakat diaspora Indonesia di Eropa.

Mengapa Naturalisasi Pemain Diaspora Penting?

Dalam beberapa tahun terakhir, PSSI dan pelatih Timnas Indonesia semakin membuka ruang bagi pemain berdarah Indonesia yang berkarier di luar negeri. Keputusan ini bukan hanya untuk menambah kualitas tim, tetapi juga untuk meningkatkan daya saing Indonesia di arena internasional, terutama menghadapi lawan kuat di kualifikasi Piala Dunia, Piala Asia, dan turnamen besar lain.

Proses naturalisasi pemain diaspora seperti Emil Audero, yang sudah tampil bersama Garuda, memberi contoh bahwa langkah ini bisa memperkaya kualitas tim baik di lini depan, tengah, maupun belakang. Sama halnya dengan peluang yang dirasakan Chirino, keberadaan talenta diaspora membantu memperluas basis pemain yang bisa dipanggil sesuai kebutuhan pelatih.

Leave a Comment