Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan telah mencapai puncaknya setelah sekian lama hubungan kedua negara diselimuti kecurigaan, klaim dukungan kelompok bersenjata, dan berulangnya bentrokan di sepanjang perbatasan. Pada akhir Februari 2026, eskalasi konflik berubah menjadi perang terbuka ketika Pakistan melakukan serangan udara di berbagai wilayah Afghanistan setelah serangkaian bentrokan lintas batas yang memakan korban dan menimbulkan kerusakan signifikan.
Titik Awal Ketegangan Berkepanjangan
Sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan setelah penarikan pasukan internasional pada 2021, hubungan dengan Islamabad tidak pernah benar-benar stabil. Pakistan secara rutin menuduh pemerintah Taliban memberikan tempat aman bagi kelompok militan seperti Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) serta unsur-unsur separatis lain yang menyerang wilayah Pakistan. Islamabad mengklaim bahwa serangan bunuh diri dan serangan terhadap pasukan keamanan Pakistan sering berasal dari wilayah Afghanistan.
Ketidakpercayaan ini diperparah oleh faktor sejarah yang lebih luas. Perbatasan antara kedua negara, disebut Durand Line, sudah lama menjadi sumber ketegangan sejak Pakistan berdiri pada 1947, karena Afghanistan tidak mengakui perbatasan itu sebagai garis yang sah dan melihat beberapa wilayah Pashtun sebagai bagian integral komunitas mereka.
Runtuhnya Gencatan Senjata dan Eskalasi
Sebelumnya pada akhir 2025, kedua negara pernah menyepakati gencatan senjata yang dimediasi oleh negara-negara seperti Qatar dan Turki setelah beberapa ronde bentrokan di perbatasan Oktober dan November. Gencatan itu berhasil meredakan sejumlah bentrokan, tetapi tidak sepenuhnya menghapus akar penyebab konflik. Ketika negosiasi politik tidak memberikan hasil jangka panjang, ketegangan kembali memanas.
Pada tanggal 22 Februari 2026, militer Pakistan melancarkan serangan udara di provinsi timur Afghanistan seperti Nangarhar dan Paktika, menargetkan apa yang mereka klaim sebagai kamp dan persembunyian kelompok militan termasuk TTP dan ISIS – Khorasan Province. Pakistan menyatakan serangan itu berdasarkan intelijen dan bertujuan menghentikan serangan terhadap wilayahnya, meskipun pihak Afghanistan mengatakan ada sejumlah warga sipil yang tewas akibat serangan tersebut.
Balasan dan Kejatuhan ke Konflik Terbuka
Ketegangan tak terhindarkan setelah serangan udara tersebut. Menurut laporan, pada beberapa hari berikutnya, Afghanistan melakukan serangan balik terhadap pasukan Pakistan, termasuk penggunaan drone untuk menyasar posisi militer Pakistan. Pihak Afghanistan mengatakan serangan ini merupakan balasan atas serangan sebelumnya dan merupakan “operasi ofensif skala besar” terhadap pasukan Pakistan di sepanjang perbatasan yang sering disebut Durand Line.
Eskalasi tersebut membuat Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menyatakan bahwa negaranya kini dalam kondisi “perang terbuka dengan Afghanistan,” setelah Islamabad menuduh Taliban Afghanistan memicu kekerasan lintas batas tanpa alasan yang jelas. Pengumuman ini juga disertai operasi ofensif besar yang dinamakan Operation Ghazab lil Haq, di mana serangan udara diarahkan tidak hanya pada wilayah perbatasan tetapi juga kota-kota besar seperti Kabul dan Kandahar.
Pakistan mengklaim operasi tersebut berhasil memukul ratusan anggota Taliban dan menghancurkan sejumlah posisi militer mereka, sementara pihak Afghanistan memberikan klaim balasan atas kerugian di pihak Pakistan. Kedua klaim korban masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Peranan Kelompok Militan dan Tuduhan Timbal Balik
Salah satu akar utama konflik adalah tuduhan Pakistan bahwa pemerintah Taliban di Kabul menyediakan perlindungan bagi TTP dan kelompok militan lain yang memicu gelombang serangan di wilayah Pakistan. Kelompok tersebut telah dikenal melakukan berbagai aksi termasuk serangan terhadap fasilitas keamanan Pakistan, meskipun hubungan operasional mereka dengan pemerintah Afghanistan sering dibantah oleh pihak Taliban sendiri.
Pakistan sendiri mengalami serangkaian insiden kekerasan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk bom bunuh diri yang menewaskan puluhan orang di sebuah masjid di Islamabad, serta serangan mematikan terhadap konvoi keamanan di wilayah utara. Islamabad menghubungkan sebagian dari serangan ini dengan aktivitas militan yang beroperasi dari wilayah Afghanistan.
Dampak Perang Terbuka dan Keselamatan Sipil
Perubahan dari bentrokan perbatasan menjadi perang terbuka berdampak signifikan terhadap keamanan regional dan keselamatan warga sipil. Serangan udara yang menimpa area perkotaan di Afghanistan telah menimbulkan casualties termasuk warga sipil, sementara klaim Pakistan atas serangan militan terhadap wilayahnya turut memicu respons militer yang lebih besar.
Selain korban langsung, konflik ini juga memperburuk ketegangan politik dan diplomatik antara kedua negara tetangga, serta kemungkinan mempengaruhi alur bantuan dan stabilitas di kawasan Asia Selatan.
Dimensi Geopolitik yang Lebih Luas
Konflik ini bukan semata soal perbatasan atau serangan militan; ia juga mencakup persaingan geopolitik lebih luas, termasuk tuduhan Pakistan bahwa Afghanistan menjadi “basis pengaruh” negara lain, yang menambah kompleksitas hubungan. Tuduhan bahwa Taliban telah “mengubah Afghanistan menjadi koloni India” mencerminkan bagaimana isu politik regional ikut memperuncing perbedaan dan mempersulit dialog damai.
Selain itu, kawasan tersebut makin sensitif dalam konteks nilai strategisnya bagi negara besar lain yang punya kepentingan ekonomi maupun keamanan, seperti rute jaringan infrastruktur transnasional.
Tantangan Perdamaian dan Jalan ke Depan
Upaya diplomasi sebelumnya, termasuk gencatan senjata dan peran mediasi Qatar dan Turki, belum berhasil menghasilkan penyelesaian jangka panjang. Ketika perang terbuka kini menjadi kenyataan, tantangan untuk meredakan konflik jauh lebih besar. Kepentingan keamanan nasional, tuduhan dukungan militan, serta bentrokan sejarah antara Pakistan dan Afghanistan menjadi hal yang harus diatasi oleh para pemimpin kedua negara dan komunitas internasional.