LOKERSEMARANG.CO.ID-Kejadian mengerikan yang menimpa Farradhila Ayu Pramesti (23), mahasiswi tingkat akhir Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, menyisakan cerita luar biasa tentang keberanian dan ketangguhan fisik. Di tengah serangan membabi buta menggunakan senjata tajam jenis kapak oleh rekannya sendiri, Farradhila berhasil mempertahankan nyawanya melalui perlawanan sengit yang tidak terduga oleh pelaku.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis pagi tersebut kini menjadi perhatian publik, bukan hanya karena kebrutalan pelakunya, tetapi juga karena faktor yang membuat korban tetap hidup. Keahlian bela diri yang dimiliki korban ternyata menjadi penentu antara hidup dan mati saat ia dipojokkan di dalam lingkungan fakultasnya sendiri.
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa jika bukan karena kesigapan korban dalam menangkis serangan, luka yang diderita bisa berakibat jauh lebih fatal. Insiden ini membuktikan bahwa penguasaan teknik pertahanan diri bukan sekadar hobi, melainkan instrumen penyelamat jiwa di kondisi darurat.
Insting Pesilat: Menangkis Kapak dengan Tangan Kosong
Farradhila bukanlah mahasiswi biasa dalam hal fisik. Ia merupakan seorang pesilat aktif sekaligus pelatih di organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Keahlian ini keluar secara naluriah saat pelaku, Rehan Mujafar (21), mengayunkan kapak berkali-kali ke arah vital seperti kepala dan leher.
Saat serangan terjadi, korban tidak hanya diam membeku. Meskipun ia sudah menderita luka bacok di bagian kening dan belakang telinga, Farradhila mampu melakukan gerakan defensif untuk melindungi area leher dan wajah. Dalam kondisi telentang dan terdesak di lantai, ia menggunakan lengannya sebagai tameng untuk menahan tekanan kapak yang diayunkan pelaku dengan penuh tenaga.
Perlawanan ini membuat ayunan senjata pelaku tidak mengenai sasaran mematikan. Akibat aksi heroik ini, korban harus menerima risiko besar berupa patah tulang pada pergelangan tangan kirinya. Namun, upaya tersebut berhasil mengulur waktu hingga bantuan dari pihak keamanan kampus dan mahasiswa lainnya datang untuk meringkus pelaku yang sudah gelap mata.
Persiapan Matang Pelaku dan Motif yang Terungkap
Kepolisian Sektor (Polsek) Bina Widya menemukan fakta bahwa pelaku telah merencanakan aksi ini dengan sangat dingin. Rehan diketahui sengaja mengasah senjata tajam berupa kapak dan parang di rumahnya di Bangkinang, Kampar, satu hari sebelum kejadian. Ia kemudian membawa senjata tersebut ke kampus di dalam tas ransel, mencari momen saat korban sedang sendirian menunggu jadwal ujian munaqasyah.
Motif di balik tindakan nekat ini berakar pada persoalan asmara yang tidak sehat. Pelaku diduga memiliki obsesi berlebihan terhadap korban yang bermula sejak masa KKN. Namun, penolakan tegas dari Farradhila justru memicu rasa dendam di hati Rehan. Pelaku merasa sakit hati karena korban ingin membatasi komunikasi dan menjauh demi ketenangan hidupnya.
Kegagalan pelaku dalam menjalankan niat jahatnya ini menjadi bukti bahwa kekuatan fisik yang dipadukan dengan kesiapan mental dapat membalikkan keadaan, bahkan saat menghadapi lawan yang bersenjata tajam sekalipun.
Dukungan Sosial dan Kondisi Terkini Korban
Pasca-operasi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, kondisi Farradhila dilaporkan terus membaik. Meski mengalami trauma mendalam dan luka fisik yang cukup parah di bagian kepala serta tangan, semangatnya sebagai seorang atlet bela diri tampak tetap kuat. Banyak rekan dari komunitas silat dan sesama mahasiswa yang memberikan dukungan moral bagi kesembuhannya.
Pihak UIN Suska Riau juga menegaskan komitmennya untuk mendampingi korban hingga pulih total, termasuk memastikan keberlanjutan proses akademiknya yang sempat terhambat akibat insiden ini. Secara paralel, pihak universitas melakukan evaluasi internal mengenai keamanan di dalam gedung fakultas untuk memastikan tidak ada celah bagi tindakan kriminal serupa di masa mendatang.
Sementara itu, proses hukum terhadap Rehan terus berjalan dengan jeratan pasal pembunuhan berencana yang gagal dilakukan. Keberhasilan korban bertahan hidup menjadi poin kunci dalam penyidikan, memperjelas adanya niat membunuh dari cara pelaku menyerang bagian-bagian vital korban.
Pesan Penting di Balik Tragedi Kampus
Tragedi ini membawa pesan kuat tentang pentingnya membekali diri dengan kemampuan bela diri bagi siapa saja, terutama perempuan. Dalam situasi di mana bantuan tidak bisa datang secara instan, insting bertahan diri adalah satu-satunya harapan yang dimiliki. Farradhila telah menunjukkan bahwa keberanian yang terukur dan penguasaan teknik bela diri mampu membentengi diri dari kezaliman yang terencana.
Kasus ini diharapkan menjadi momentum bagi pihak kampus di seluruh Indonesia untuk lebih memperhatikan aspek kesehatan mental mahasiswanya dan memperketat pengamanan area publik di lingkungan institusi pendidikan. Keamanan bukan hanya soal pagar yang tinggi, tetapi juga tentang sistem deteksi dini terhadap potensi ancaman dari dalam lingkungan itu sendiri.
Semoga kisah Farradhila menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu waspada, serta menjadi inspirasi bagi para perempuan untuk tidak ragu mempelajari ilmu pertahanan diri sebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan dan keselamatan jiwa.
Artikel ditulis oleh: Mokhamad Abdul Hadi