3 Penyebab Relationship Anxiety Meski Hubungan Terasa Stabil

LOKERSEMARANG.CO.ID-Secara logika, hubungan yang stabil, penuh keterbukaan, dan minim konflik seharusnya memberikan rasa aman yang absolut. Namun, bagi banyak individu, stabilitas justru menjadi pemicu munculnya perasaan tidak tenang yang dikenal sebagai relationship anxiety. Kondisi ini ditandai dengan munculnya keraguan yang tidak beralasan, ketakutan akan ditinggalkan, atau kebiasaan menganalisis setiap percakapan kecil secara berlebihan (overthinking).

Relationship anxiety bukan berarti hubungan Anda sedang bermasalah. Sering kali, kecemasan ini bukan refleksi dari perilaku pasangan, melainkan proyeksi dari pergulatan internal yang belum terselesaikan. Memahami akar penyebabnya sangat penting agar rasa cemas ini tidak berubah menjadi perilaku sabotase diri (self-sabotaging) yang justru merusak harmoni yang sudah terbangun.

Berikut adalah narasi mendalam mengenai tiga penyebab utama mengapa kecemasan tetap bisa menghantui Anda meski sedang menjalani hubungan yang tampak sempurna.

1. Pengaruh Gaya Kelekatan Insecure (Insecure Attachment Style)

Pola kita mencintai seseorang saat dewasa sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita mendapatkan kasih sayang di masa kecil. Orang dengan gaya kelekatan cemas (anxious attachment style) cenderung memiliki “radar” yang sangat sensitif terhadap perubahan kecil dalam perilaku pasangan.

Meski hubungan stabil, mereka sering kali merasa butuh validasi terus-menerus. Jika pasangan sedikit lebih pendiam dari biasanya karena lelah bekerja, individu dengan kecemasan ini akan langsung menyimpulkan bahwa pasangannya mulai kehilangan minat atau sedang marah. Stabilitas bagi mereka terasa seperti “ketenangan sebelum badai”, sehingga mereka selalu bersiap menghadapi penolakan yang sebenarnya tidak ada.

2. Jejak Trauma dari Hubungan Masa Lalu

Luka lama yang belum sembuh total sering kali meninggalkan bekas berupa kewaspadaan yang berlebihan. Jika seseorang pernah mengalami pengkhianatan, gaslighting, atau ditinggalkan secara mendadak di hubungan sebelumnya, otak mereka akan membangun sistem pertahanan otomatis.

Dalam hubungan yang stabil, individu ini mungkin merasa bahwa segala sesuatunya “terlalu indah untuk menjadi kenyataan”. Kecemasan muncul sebagai mekanisme perlindungan diri agar mereka tidak terjatuh terlalu dalam jika suatu saat hal buruk terjadi. Mereka sulit mempercayai ketenangan karena memori masa lalu memberitahu mereka bahwa kebahagiaan itu rapuh dan bersifat sementara.

3. Rendahnya Harga Diri (Low Self-Esteem)

Kecemasan dalam hubungan sering kali berakar pada bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika seseorang merasa tidak cukup berharga atau tidak layak mendapatkan cinta, mereka akan sulit mempercayai bahwa pasangan mereka benar-benar mencintai mereka dengan tulus.

Pikiran negatif seperti “Kapan dia akan sadar bahwa saya tidak sehebat itu?” atau “Pasti ada orang lain yang lebih baik dari saya” terus berputar di kepala. Rendahnya harga diri membuat seseorang merasa inferior di hadapan pasangannya, sehingga stabilitas hubungan justru dirasakan sebagai beban karena mereka merasa harus terus “berakting” sempurna agar tidak ditinggalkan.

Kesimpulan: Menjinakkan Cemas dengan Kesadaran Diri

Relationship anxiety adalah sebuah sinyal, bukan sebuah fakta. Mengakui bahwa kecemasan tersebut berasal dari dalam diri—bukan dari fakta hubungan—adalah langkah besar menuju penyembuhan. Komunikasi yang jujur dengan pasangan mengenai perasaan ini dapat membantu meredakan ketegangan dan membangun sistem pendukung yang lebih kuat.

Hubungan yang stabil adalah tempat terbaik untuk belajar melepaskan kendali dan mulai mempercayai proses. Dengan memahami akarnya, Anda dapat mulai memisahkan mana suara ketakutan dari masa lalu dan mana suara cinta yang ada di masa kini.

Artikel ditulis oleh: Mokhamad Abdul Hadi

Leave a Comment