LOKERSEMARANG.CO.ID – Dunia investasi teknologi dikejutkan dengan kabar merosotnya nilai saham IBM secara drastis dalam perdagangan terbaru di bursa saham Amerika Serikat. Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai raksasa komputasi dan solusi bisnis tersebut harus mencatat rekor buruk dengan penurunan nilai saham terdalam dalam 34 tahun terakhir. Penurunan ini bukan tanpa alasan, melainkan dipicu oleh kekhawatiran posisi investor terhadap IBM di tengah persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian agresif, terutama setelah munculnya laporan mengenai keunggulan kompetitor baru, Anthropic.
Sentimen Negatif dari Laporan Persaingan AI
Keresahan pasar bermula ketika para analis melihat adanya pergeseran minat klien korporasi dari layanan AI tradisional milik IBM ke platform yang lebih modern dan cepat berkembang seperti Anthropic. Anthropic, sebuah startup yang didukung oleh pendanaan masif dari raksasa teknologi lainnya, dianggap memiliki model bahasa besar ( large bahasa model ) yang lebih efisien dan relevan dengan kebutuhan pasar saat ini dibandingkan dengan solusi yang ditawarkan oleh IBM.
Penurunan saham hingga angka yang tidak terlihat sejak tahun 1992 ini mencerminkan ketidakpercayaan investor terhadap strategi jangka panjang IBM dalam menghadapi “perang” AI. Meskipun IBM telah mencoba bertransformasi dengan platform watsonx miliknya, pasar nampaknya lebih terpukau dengan kecepatan inovasi yang ditunjukkan oleh perusahaan rintisan AI yang lebih lincah. Hal ini menjadi peringatan keras bagi perusahaan teknologi “tua” bahwa sejarah panjang tidak lagi menjamin keamanan posisi di bursa saham jika gagal beradaptasi dengan kecepatan perubahan teknologi.
Dampak Psikologis bagi Investor
Penurunan tajam ini menciptakan efek domino di lantai bursa. Para investor yang awalnya melihat IBM sebagai aset yang stabil kini mulai melakukan evaluasi ulang terhadap portofolio mereka. Angka penurunan yang mencapai rekor tiga dekade lebih ini menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut bukan hanya sekedar menggertak setiap hari, melainkan respons terhadap perubahan fundamental dalam cara dunia bisnis yang mengonsumsi teknologi kecerdasan buatan.
Beberapa analis berpendapat bahwa IBM kini berada di persimpangan jalan yang krusial. Perusahaan harus mampu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar “penonton” dalam revolusi AI ini. Jika tidak segera melakukan invasi atau kemitraan strategi yang mampu menandingi daya tarik Anthropic atau OpenAI, maka tren negatif ini berspekulasi akan terus berlanjut dan menggerus nilai kapitalisasi pasar perusahaan lebih dalam lagi.
Inovasi sebagai Kunci Penyelamat
Meskipun situasi terlihat suram, IBM sebenarnya masih memiliki sumber daya penelitian dan pengembangan yang sangat besar. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengubah penelitian tersebut menjadi produk komersial yang mampu bersaing secara langsung di pasar terbuka. Dominasi Anthropic menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih menghargai kemampuan teknis yang praktis dan integrasi AI yang mulus daripada sekadar nama besar perusahaan.
Masa depan IBM di bursa saham kini sangat bergantung pada bagaimana manajemen merespons tekanan ini. Apakah mereka akan melakukan strategi akuisisi, mengubah model bisnis mereka, atau justru tertinggal lebih jauh oleh gempuran startup AI yang didanai oleh modal ventura raksasa. Satu hal yang pasti, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri teknologi bahwa di era AI, tidak ada perusahaan yang benar-benar “terlalu besar untuk jatuh”.
Anjloknya saham IBM ke level terendah dalam 34 tahun adalah momen bersejarah yang menandai pergeseran kekuatan di industri teknologi global. Munculnya nama Anthropic sebagai pemicu utama menunjukkan bahwa kompetisi lanskap kini telah berubah total. Bagi IBM, jalan menuju pemulihan akan sangat terjal dan menuntut inovasi yang jauh lebih radikal agar dapat kembali merebut kepercayaan para pemegang saham di seluruh dunia.