LOKERSEMARANG.CO.ID – Jakarta dikenal sebagai kota yang sangat cepat menyerap tren gaya hidup, termasuk dalam urusan olahraga. Setelah sempat menjadi fenomena luar biasa selama setahun terakhir, olahraga Padel kini dilaporkan mulai kehilangan statusnya sebagai “primadona” di ibu kota. Lapangan-lapangan yang dulunya harus dipesan berminggu-minggu sebelumnya, kini mulai menunjukkan penurunan tingkat okupansi yang cukup signifikan.
Puncak Euforia yang Mulai Melandai
Kemunculan Padel di Jakarta awalnya disambut dengan antusiasme tinggi karena dianggap sebagai kombinasi yang menyenangkan antara tenis dan skuas. Olahraga ini menjadi simbol gaya hidup baru bagi kaum perkotaan, didorong oleh paparan besar-besaran di media sosial dan partisipasi sejumlah tokoh masyarakat. Banyak investor pun berbondong-bondong membangun lapangan Padel mewah di kawasan strategis seperti Senayan, SCBD, hingga Pantai Indah Kapuk (PIK).
Namun memasuki awal tahun 2026, euforia tersebut tampaknya mulai mencapai titik jenuh. Masyarakat yang sebelumnya mencoba Padel karena rasa penasaran atau sekadar mengikuti tren, kini mulai beralih ke aktivitas lain atau kembali ke olahraga dasar seperti lari dan bersepeda. Penurunan minat ini menjadi tantangan besar bagi para pengelola fasilitas olahraga yang telah mengeluarkan investasi besar.
Faktor Biaya dan Keberlanjutan
Beberapa analis gaya hidup menyebutkan bahwa faktor biaya menjadi salah satu alasan utama mengapa Padel sulit menjaga basis pemain setianya. Biaya sewa lapangan yang relatif mahal dibandingkan olahraga raket lainnya, ditambah harga perlengkapan seperti racket padel (carbon) yang cukup tinggi, membuat olahraga ini eksklusif bagi kalangan tertentu.
Selain itu, komunitas Padel di Jakarta dinilai belum memiliki kuat komunitas tenis atau bulu tangkis yang sudah memiliki struktur kompetisi dan klub yang sangat mapan. Tanpa adanya regenerasi pemain dan turnamen yang berkelanjutan di tingkat amatir, Padel berisiko hanya menjadi “tren musiman” yang cepat datang dan cepat pergi.
Nasib Lapangan dan Strategi Pengelolaan
Menghadapi situasi ini, beberapa pengelola lapangan mulai memutar otak. Strategi potongan harga di jam-jam tertentu ( happy hour ), paket keanggotaan yang lebih terjangkau, hingga penggabungan fasilitas olahraga dengan kafe atau area sosial dilakukan untuk tetap menarik pengunjung. Pengelola kini tidak lagi hanya menjual “tempat berolahraga”, tetapi juga menjual “pengalaman bersosialisasi”.
Meski tak lagi menjadi primadona yang mendominasi pembicaraan, Padel diperkirakan akan tetap memiliki segmen pasar sendiri yang lebih ceruk ( niche ). Namun, masa keemasan di mana semua orang berdiskusi dan ingin mencoba Padel sepertinya sudah mulai terlewati.
Fenomena yang melandainya minat Padel di Jakarta menjadi pengingat bahwa gaya hidup industri sangatlah dinamis. Sebuah olahraga membutuhkan lebih dari sekedar tren media sosial untuk bisa bertahan dalam jangka panjang; ia membutuhkan komunitas yang solid dan keterjangkauan bagi berbagai lapisan masyarakat. Bagi warga Jakarta, perubahan ini hanyalah siklus biasa dalam mencari hobi baru yang lebih menantang atau mungkin lebih terjangkau.