LOKERSEMARANG.CO.ID – Fenomena hustle culture atau budaya kerja berlebihan kini menjadi isu sentral yang mewarnai keseharian Gen Z di seluruh dunia. Generasi yang lahir di era digital ini seakan dipaksa untuk selalu bergerak cepat dan mencapai kesuksesan finansial di usia yang sangat muda.
Bagi banyak Gen Z, bekerja melampaui batas waktu dianggap sebagai simbol dedikasi dan kunci untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, di balik semangat tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental mereka.
Mengapa Gen Z Begitu Terobsesi dengan Produktivitas?
Salah satu pendorong utama keterlibatan Gen Z dalam budaya kerja keras ini adalah masifnya paparan pencapaian orang lain di media sosial. Standar kesuksesan yang ditampilkan secara visual membuat banyak individu merasa tertinggal jika tidak memiliki pekerjaan sampingan atau proyek kreatif.
Ketakutan akan tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO) mendorong Gen Z untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab daripada yang bisa mereka tanggung. Akibatnya, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi semakin kabur dan sulit untuk dipisahkan.
Tekanan Sosial dalam Lingkungan Digital Gen Z
Validasi sosial di ruang digital sering kali diukur melalui seberapa sibuk seseorang dalam kesehariannya sebagai bagian dari identitas Gen Z. Memamerkan kegiatan bekerja hingga larut malam atau mengikuti berbagai pelatihan profesional telah menjadi tren yang dianggap membanggakan di platform seperti LinkedIn atau TikTok.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna dan produktif secara konsisten membuat Gen Z sulit untuk sekadar beristirahat tanpa merasa bersalah. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang kompetitif secara tidak sehat, di mana kelelahan justru sering kali dianggap sebagai sebuah medali kehormatan.
Risiko Burnout dan Masalah Kesehatan Mental
Studi menunjukkan bahwa intensitas kerja yang terlalu tinggi pada Gen Z berbanding lurus dengan peningkatan angka gangguan kecemasan dan kelelahan kronis. Tanpa adanya regulasi diri yang baik, ambisi untuk meraih sukses cepat bisa berubah menjadi bumerang yang merusak kesejahteraan emosional mereka.
Pergeseran Nilai: Gen Z Mulai Mengenal Quiet Quitting
Sebagai respons terhadap tekanan yang menyesakkan, sebagian kelompok Gen Z mulai memperkenalkan konsep quiet quitting atau bekerja secukupnya sesuai porsi. Gerakan ini bukan berarti kemalasan, melainkan upaya untuk menetapkan batasan yang lebih sehat antara karier dan kebahagiaan pribadi.
Langkah ini menunjukkan bahwa Gen Z mulai menyadari bahwa produktivitas sejati tidak harus dibayar dengan kesehatan mental yang hancur. Mereka kini lebih selektif dalam memilih pekerjaan yang menawarkan keseimbangan hidup dan fleksibilitas waktu yang manusiawi.
Pentingnya Self-Care dan Batasan Kerja
Kesadaran akan pentingnya perawatan diri mulai menjadi tren baru yang lebih positif di kalangan Gen Z tahun ini. Mengambil waktu jeda dan mematikan notifikasi pekerjaan setelah jam kantor adalah langkah kecil yang mulai banyak diterapkan secara kolektif.
Mencari Jalan Tengah untuk Masa Depan Gen Z
Masa depan profesional bagi Gen Z seharusnya tidak dibangun di atas pondasi kelelahan yang dipaksakan oleh ekspektasi publik. Keseimbangan antara mengejar ambisi dan menjaga kewarasan adalah kunci utama agar produktivitas bisa berjalan secara berkelanjutan.
Dukungan dari perusahaan dan lingkungan sosial sangat diperlukan untuk membantu Gen Z keluar dari jebakan tekanan sosial yang toksik. Jika dikelola dengan bijak, energi besar yang dimiliki generasi ini bisa menjadi mesin penggerak inovasi yang luar biasa tanpa harus mengorbankan nyawa.
Penutupnya, menjadi bagian dari Gen Z berarti berani menentukan standar kesuksesan sendiri tanpa harus selalu mendengarkan kebisingan di luar sana. Kesuksesan yang paling hakiki adalah ketika Anda mampu meraih impian sambil tetap memiliki waktu untuk mencintai diri sendiri.