LOKERSEMARANG.CO.ID – Quick Response Code Indonesia Standard atau yang lebih akrab kita kenal sebagai QRIS, kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Namun, di balik kemudahan transaksi yang kita rasakan saat ini, terdapat sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan visi dan strategi. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, baru-baru ini menceritakan kisah inspiratif mengenai asal-muasal lahirnya inovasi besar ini dalam acara peluncuran Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI).
Berawal dari Sebuah Mimpi di Tahun 2019
Perry Warjiyo mengenang bahwa gagasan untuk menciptakan sistem pembayaran terpadu muncul pada tahun 2019, tepatnya sekitar 10 bulan sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia. Saat ini, ekosistem pembayaran digital di Indonesia masih sangat terfragmentasi. Perry secara berkelakar mengingat masa tersebut dengan mengatakan bahwa saat itu masyarakat belum mengenal QRIS, melainkan lebih mengenal sosok penyanyi “Krisdayanti”.
Kondisi sistem pembayaran kala itu cukup menyulitkan pengguna dan pedagang karena terdapat sekitar 13 hingga 14 jenis kode QR yang berbeda dari berbagai penyelenggara jasa sistem pembayaran. Setiap platform memiliki kode QR masing-masing, sehingga pedagang harus memajang banyak kode di meja kasir mereka. Melihat kerumitan ini, Bank Indonesia merasa perlu menciptakan sebuah standar nasional yang dapat menyatukan semua platform tersebut dalam satu bahasa pembayaran.
Proklamasi “Satu Bahasa” Pembayaran Digital
Puncak dari kunjungan tersebut terjadi pada tanggal 17 Agustus 2019. Bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, Bank Indonesia secara resmi meluncurkan QRIS sebagai standar pembayaran tunggal berbasis QR code di tanah air. Perry menyebut momen ini sebagai sebuah “proklamasi satu bahasa pelayanan pembayaran digital”. Tujuannya jelas: menciptakan interoperabilitas agar satu kode QR dapat dikirimkan oleh aplikasi manapun dari penyelenggara yang berbeda.
Proses penyatuan ini bukanlah perkara mudah. Bank Indonesia harus mensinergikan berbagai kepentingan perusahaan teknologi finansial (fintech) dan perbankan agar mau tunduk pada satu standar yang sama. Namun, dengan semangat kolaborasi, tantangan tersebut berhasil diatasi. Perry merangkum perjalanan ini dengan kalimat filosofis: “Itu dari mimpi, menjadi visi, menjadi tindakan, dan berakhir menjadi kenyataan.” (Itu bermula dari mimpi, menjadi visi, diwujudkan dengan aksi, dan akhirnya menjadi kenyataan).
Kini Digunakan oleh 60 Juta Orang
Hasil dari kerja keras tersebut kini terlihat nyata. Hingga awal tahun 2026, pengguna QRIS di Indonesia telah mencapai hampir 60 juta orang. Tidak hanya di pusat dunia hiburan mewah, QRIS telah merambah hingga ke pasar tradisional, pedagang kaki lima, hingga ke pelosok desa. Keberhasilan ini membuktikan bahwa teknologi jika dikelola dengan visi yang tepat dapat mempercepat inklusi keuangan secara masif.
Lebih jauh lagi, QRIS kini tidak hanya berfungsi di dalam negeri. Bank Indonesia terus memperluas jangkauan QRIS antarnegara ( lintas batas ), yang memungkinkan warga Indonesia berbelanja di Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, hingga Korea Selatan hanya dengan memindai kode QR melalui aplikasi perbankan nasional mereka.
Lahirnya QRIS adalah bukti bahwa Indonesia mampu menciptakan inovasi teknologi keuangan yang berdaulat dan diakui dunia. Dari sekedar mimpi untuk memudahkan masyarakat bertransaksi, QRIS telah bertransformasi menjadi tulang punggung ekonomi digital nasional. Bagi Perry Warjiyo dan Bank Indonesia, perjalanan QRIS belum berakhir, karena sinergi dan kolaborasi akan terus dilakukan untuk membawa sistem pembayaran Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi.