LOKERSEMARANG.CO.ID – Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, otoritas Liga Spanyol (La Liga) telah mengambil keputusan resmi mengenai perekaman pertandingan yang bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Berbeda dengan langkah yang diambil oleh beberapa liga besar Eropa lainnya dalam beberapa tahun terakhir, La Liga mengonfirmasi bahwa mereka tidak akan menghentikan pertandingan secara khusus untuk memberikan kesempatan bagi para pemain Muslim untuk membatalkan puasa di pinggir lapangan.
Konsistensi Regulasi
Keputusan Pertandingan ini didasarkan pada keinginan operator liga untuk menjaga ritme permainan dan durasi siaran agar tetap sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pihak La Liga menyatakan bahwa meskipun mereka menghormati keberagaman keyakinan para pemainnya, saat ini belum ada perubahan regulasi dalam protokol pertandingan yang memungkinkan adanya jeda tambahan di tengah laga, kecuali untuk alasan kesehatan yang bersifat darurat atau sesuai instruksi wasit dalam kondisi cuaca ekstrem.
Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemain-pemain bintang Muslim yang merumput di Spanyol. Dengan jadwal pertandingan yang sering kali dimainkan pada sore dan malam hari, momen matahari terbenam atau waktu Magrib kerap terjadi di tengah pemutaran babak pertama atau babak kedua. Para pemain diharapkan dapat mengatur strategi nutrisi dan hidrasi mereka secara mandiri sebelum atau sesudah pertandingan.
Perbandingan dengan Liga Inggris dan Prancis
Langkah La Liga ini menarik perhatian karena kontras dengan kebijakan di Premier League Inggris. Di Inggris, wasit diberikan panduan untuk mencari momen yang tepat seperti saat bola mati tendangan atau gawang untuk menghentikan laga sejenak guna mengizinkan pemain Muslim mengonsumsi cairan atau suplemen energi saat waktu berbuka tiba. Sebaliknya, La Liga nampaknya lebih condong mengikuti jejak Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) yang juga mengisyaratkan pembatasan terhadap laga demi alasan keagamaan di lapangan.
Beberapa klub di Spanyol dikabarkan telah menyiapkan tim medis dan ahli gizi khusus untuk membantu pemain mereka yang berpuasa agar tetap bisa tampil maksimal di level tertinggi. Fokus utama mereka adalah memastikan bahwa performa fisik pemain tidak menurun tajam akibat perubahan pola makan, terutama dalam intensitas kompetisi yang sangat tinggi.
Respon dari Pelaku Sepak Bola
Meski tidak ada jeda resmi dari operator liga, beberapa wasit di lapangan terkadang memiliki kebijaksanaan sendiri dalam mengatur tempo permainan jika melihat ada pemain yang perlu membatalkan puasa secara singkat. Namun, hal ini tidak bersifat wajib dan sepenuhnya bergantung pada situasi di lapangan. Para pemain Muslim di La Liga sendiri sudah terbiasa dengan kondisi ini selama bertahun-tahun, di mana profesionalisme di lapangan tetap menjadi prioritas tanpa mengabaikan kewajiban ibadah.
Keputusan La Liga untuk tidak memberlakukan jeda buka puasa resmi menegaskan posisi mereka dalam mempertahankan aturan utama yang kaku. Bagi para pemain Muslim di Liga Spanyol, Ramadhan tahun ini akan kembali menjadi ujian ketangguhan fisik dan mental. Meski tanpa bantuan jeda resmi, dedikasi mereka untuk tetap berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola dunia tetap tidak tergoyahkan.