Pergeseran Geopolitik Digital: India dan Amerika Serikat Perkuat Aliansi Hadapi China

LOKERSEMARANG.CO.ID – Dinamika politik global memasuki babak baru yang semakin memanas pada awal tahun 2026.

India secara resmi mempertegas posisinya dengan merapat ke barisan Amerika Serikat dalam upaya kolektif membatasi ekspansi teknologi global China. Langkah strategis ini bukan sekadar urusan diplomasi biasa, melainkan sebuah pernyataan tegas mengenai arah kedaulatan digital di masa depan.

Kerja sama yang semakin erat antara New Delhi dan Washington ini mencakup sektor-sektor krusial, mulai dari pengembangan semikonduktor hingga kecerdasan buatan (AI). Bagi dunia internasional, manuver ini menandai berakhirnya ambiguitas India yang selama ini berusaha menyeimbangkan kepentingan di antara blok Barat dan kekuatan Asia Timur.


Penguatan Inisiatif iCET sebagai Senjata Utama

Pilar utama dari persatuan ini adalah penguatan inisiatif Critical and Emerging Technology (iCET). Inisiatif ini dirancang untuk menciptakan ekosistem teknologi yang aman dan terpercaya tanpa campur tangan pengaruh Beijing. Kedua negara sepakat bahwa ketergantungan yang terlalu besar pada komponen teknologi asal China daratan memiliki risiko keamanan nasional yang tidak bisa lagi diabaikan.

Amerika Serikat mulai mengalihkan investasi infrastruktur teknologi besarnya dari beberapa wilayah di Asia Timur menuju daratan India. Langkah ini disambut baik oleh Perdana Menteri Narendra Modi yang memang sedang gencar mempromosikan program Make in India. Dengan dukungan teknologi dari AS, India diproyeksikan akan menjadi pusat manufaktur semikonduktor alternatif guna mengurangi monopoli pasar yang selama ini dipegang oleh perusahaan-perusahaan China.


Ambisi India Menjadi Pusat Semikonduktor Dunia

India menyadari bahwa penguasaan atas “emas hitam” masa kini, yakni chip silikon atau semikonduktor, adalah kunci kedaulatan ekonomi. Selama ini, rantai pasok global sangat rentan terhadap gangguan politik di Selat Taiwan dan kebijakan ekspor ketat dari China. Dengan menggandeng Amerika Serikat, India mendapatkan akses terhadap lisensi teknologi tingkat tinggi yang sebelumnya sulit didapatkan.

Pembangunan pabrik-pabrik fabrikasi chip di Gujarat dan wilayah India Selatan menjadi bukti nyata dari aliansi ini. Raksasa teknologi Amerika seperti Micron dan NVIDIA dilaporkan terus meningkatkan kapasitas produksi mereka di India. Hal ini secara otomatis menciptakan tekanan bagi dominasi China di sektor perangkat keras yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi mereka.


Dampak Bagi Dominasi Teknologi China

Di sisi lain, Beijing tidak tinggal diam melihat persekutuan ini. China menganggap langkah India sebagai upaya pengepungan ekonomi yang didalangi oleh negara-negara Barat. Selama beberapa tahun terakhir, China telah mencoba membangun kemandirian teknologinya sendiri lewat program Made in China 2025, namun pembatasan ekspor mesin litografi dari negara-negara sekutu AS menjadi hambatan yang cukup berat.

Persatuan India dan Amerika Serikat juga mencakup sektor telekomunikasi dan jaringan 5G. India secara konsisten melarang penggunaan perangkat dari vendor China seperti Huawei dan ZTE dalam infrastruktur penting mereka. Dengan dukungan AS, India kini mulai mengekspor solusi tumpukan teknologi (technology stack) mereka sendiri ke negara-negara berkembang lainnya, yang secara langsung menyaingi program Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) milik China.


Keamanan Siber dan Perlindungan Data Pengguna

Selain urusan perangkat keras, aliansi ini juga sangat fokus pada keamanan siber. India dan AS sepakat untuk menetapkan standar baru dalam perlindungan data yang lebih ketat. Hal ini dilakukan untuk mencegah aliran data sensitif jatuh ke tangan otoritas di Beijing yang selama ini dicurigai menyalahgunakan informasi melalui aplikasi dan layanan cloud.

Larangan terhadap berbagai aplikasi asal China yang sebelumnya telah diterapkan di India kini mulai menjadi referensi bagi kebijakan serupa di beberapa wilayah Amerika Serikat. Kerja sama intelijen siber antara kedua negara juga ditingkatkan guna mendeteksi serangan peretasan yang diduga disponsori oleh negara. Proteksi ini menjadi sangat penting mengingat sistem perbankan dan jaringan listrik global kini sepenuhnya terintegrasi secara digital.


Tantangan dan Prospek Rantai Pasok Global

Meskipun terlihat menjanjikan, proses “pemisahan” (decoupling) dari teknologi China bukanlah hal yang mudah. China masih memegang kendali atas banyak mineral tanah jarang (rare earth elements) yang sangat dibutuhkan untuk memproduksi baterai kendaraan listrik dan komponen elektronik. India dan AS harus bekerja keras mencari sumber alternatif atau mengembangkan teknologi daur ulang yang efisien jika ingin benar-benar mandiri.

Namun, arah kebijakan sudah terlihat jelas. Tahun 2026 menjadi titik di mana peta kekuatan teknologi dunia tidak lagi terpusat pada satu atau dua kutub tradisional saja. India, dengan kekuatan demografinya yang besar dan dukungan teknologi Barat, siap menjadi penyeimbang kekuatan di Asia. Persaingan ini diprediksi akan mempercepat inovasi teknologi di luar ekosistem China, meski diiringi dengan meningkatnya ketegangan dagang yang mungkin berdampak pada harga perangkat elektronik di tingkat konsumen global.

Keberhasilan aliansi ini akan sangat bergantung pada konsistensi regulasi di kedua negara dan kemampuan India dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Jika berjalan sesuai rencana, maka dominasi tunggal China di panggung teknologi Asia mungkin akan segera berakhir.

Leave a Comment