Menghidupkan Luka Sejarah: Reza Rahadian dan Dian Sastro Bicara Karakter di Film Laut Bercerita

Adaptasi karya sastra ke dalam medium audio visual selalu membawa tantangan tersendiri, terutama jika materi asalnya adalah sebuah novel monumental yang memiliki basis penggemar fanatik. Hal inilah yang dirasakan oleh dua aktor papan atas Indonesia, Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo, saat didapuk memerankan karakter utama dalam film Laut Bercerita. Film yang diangkat dari novel karya Leila S. Chudori ini bukan sekadar fiksi, melainkan sebuah memoar kelam mengenai perjuangan aktivis pada masa Orde Baru.

Dalam sebuah kesempatan, baik Reza maupun Dian membagikan proses emosional yang mereka lalui untuk menghidupkan karakter Biru Laut dan Anjani. Keduanya sepakat bahwa proyek ini memiliki beban moral yang besar karena menyangkut sejarah yang masih menyisakan banyak tanda tanya bagi bangsa Indonesia hingga saat ini.

 

Transformasi Reza Rahadian Menjadi Biru Laut

Reza Rahadian dipercaya memerankan tokoh sentral bernama Biru Laut, seorang mahasiswa sekaligus aktivis yang menjadi korban penghilangan paksa. Bagi Reza, memerankan Biru Laut bukan hanya soal menghafal dialog, melainkan upaya memahami penderitaan fisik dan batin seorang pejuang yang hak-hidupnya dirampas. Ia menceritakan bagaimana ia harus menyelami kesunyian dan ketabahan karakter ini saat menghadapi intimidasi.

Karakter Biru Laut digambarkan sebagai sosok yang gemar membaca dan memiliki kecintaan luar biasa pada keluarga serta sahabat seperjuangannya. Reza mengungkapkan bahwa tantangan terberatnya adalah menyampaikan rasa sakit tersebut melalui ekspresi yang minimalis namun mendalam. Ia ingin penonton tidak hanya melihat Biru Laut sebagai korban sejarah, tetapi sebagai manusia yang memiliki impian, rasa takut, dan cinta yang tulus terhadap negaranya.

 

Dian Sastro dan Kedalaman Emosi Seorang Anjani

Di sisi lain, Dian Sastrowardoyo memerankan Anjani, kekasih Biru Laut yang juga merupakan seorang aktivis sekaligus seniman. Anjani mewakili perspektif mereka yang ditinggalkan; mereka yang harus terus hidup dalam ketidakpastian tanpa pernah tahu apakah orang yang mereka cintai akan kembali. Dian menjelaskan bahwa Anjani adalah simbol dari ketegaran yang rapuh.

Melalui perannya, Dian berupaya menggambarkan proses duka yang tidak pernah usai. Anjani bukan sekadar pelengkap romansa bagi Biru Laut, melainkan sosok yang ikut berdiri di garis depan perjuangan. Dian mengaku banyak melakukan riset mengenai bagaimana para keluarga korban penculikan aktivis 1998 bertahan selama bertahun-tahun menuntut keadilan. Pengalaman tersebut ia tuangkan ke dalam aktingnya guna memberikan penghormatan bagi mereka yang masih setia menunggu kabar di kehidupan nyata.

 

Sinergi di Balik Adaptasi Leila S. Chudori

Film Laut Bercerita sendiri awalnya diproduksi sebagai film pendek berdurasi sekitar 30 menit sebagai pendamping peluncuran novelnya. Meski berdurasi singkat, intensitas yang dibangun oleh sutradara Pritagita Arianegara bersama Yayasan TIFA sangat luar biasa. Keterlibatan Leila S. Chudori secara langsung dalam penulisan skenario memastikan bahwa ruh dari bukunya tidak hilang saat divisualisasikan.

Reza dan Dian merasa bahwa naskah yang ditulis Leila memberikan ruang eksplorasi yang luas bagi mereka. Kekuatan narasi dalam novel yang puitis namun menyayat hati berhasil diterjemahkan ke dalam adegan-adegan yang menggugah indra. Bagi kedua aktor ini, berkolaborasi dalam proyek yang memiliki nilai edukasi sejarah adalah sebuah pencapaian personal yang melampaui sekadar urusan popularitas di industri hiburan.

 

Pentingnya Film Laut Bercerita bagi Generasi Muda

Dian Sastro menekankan bahwa film ini memiliki misi penting untuk mengingatkan generasi muda tentang harga dari sebuah demokrasi. Kebebasan berpendapat yang dinikmati hari ini merupakan buah dari pengorbanan orang-orang seperti Biru Laut. Menurutnya, melalui film, sejarah yang terasa kaku di buku teks sekolah bisa menjadi lebih manusiawi dan mudah dipahami oleh anak muda sekarang.

Reza Rahadian juga menambahkan bahwa seni peran memiliki fungsi sebagai pengingat kolektif. Dengan memerankan Biru Laut, ia berharap masyarakat tidak melupakan bahwa ada luka yang belum sembuh dalam sejarah Indonesia. Film ini mengajak penonton untuk tidak hanya sekadar menonton, tetapi juga merenungkan kembali tentang nilai-manusia dan keadilan yang harus diperjuangkan secara terus-menerus.

Leave a Comment