LOKERSEMARANG.CO.ID – Industri kreatif Indonesia kembali menorehkan tinta emas di panggung internasional. Kali ini, kabar membanggakan datang dari sektor animasi melalui film berjudul Jumbo. Karya layar lebar perdana dari sutradara Ryan Adriandhy ini berhasil mencatatkan pencapaian fantastis dengan menyalip perolehan angka Sentimental Value di tangga Box Office Korea Selatan pada akhir Februari 2026.
Keberhasilan ini menjadi sinyal kuat bahwa kualitas penceritaan dan visual kreator tanah air kini mampu bersaing secara head-to-head dengan produksi global di pasar yang sangat kompetitif seperti Korea Selatan. Fenomena ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan buah dari kerja keras bertahun-tahun dalam meracik narasi yang universal namun tetap memiliki identitas lokal yang kuat.
Lonjakan Penonton di Pekan Kedua Penayangan
Berdasarkan data terbaru dari Korean Film Council (KOFIC), Jumbo menunjukkan performa yang sangat stabil sejak hari pertama perilisannya. Memasuki pekan kedua, antusiasme penonton di Negeri Gingseng justru semakin meningkat. Hal ini memungkinkan film produksi Visinema Animation tersebut merangkak naik ke posisi atas, mengungguli Sentimental Value yang sebelumnya diprediksi akan mendominasi pasar.
Pencapaian ini terbilang langka bagi film animasi asal Asia Tenggara. Biasanya, pasar Korea Selatan didominasi oleh film domestik mereka sendiri atau produksi besar dari Hollywood dan Jepang. Kehadiran Jumbo yang mampu “mencuri” perhatian penonton lokal di sana membuktikan bahwa tema yang diusung dalam film ini memiliki resonansi emosional yang lintas batas negara.
Kekuatan Narasi dan Isu Perundungan
Salah satu faktor utama yang membuat Jumbo diterima dengan baik di Korea Selatan adalah kedalaman ceritanya. Film ini berkisah tentang petualangan seorang anak bernama Don yang harus berhadapan dengan masalah perundungan (bullying). Isu ini merupakan topik yang sangat relevan dan sering menjadi perbincangan hangat di masyarakat Korea Selatan, sehingga penonton di sana merasa terhubung dengan perjuangan karakter utamanya.
Ryan Adriandhy selaku sutradara berhasil mengemas isu berat tersebut dengan pendekatan yang imajinatif dan penuh keajaiban. Visual yang berwarna-warni dan karakter yang menggemaskan tidak menghilangkan esensi pesan moral yang ingin disampaikan. Perpaduan antara hiburan keluarga dan edukasi inilah yang membuat para orang tua di Korea Selatan berbondong-bondong membawa anak-anak mereka ke bioskop.
Teknis Animasi yang Memukau Dunia
Secara teknis, Jumbo tidak kalah dengan standar animasi studio besar dunia. Penggunaan teknologi CGI yang halus, desain karakter yang ekspresif, serta tata musik yang megah menjadi paket lengkap yang ditawarkan film ini. Kritikus film di Korea Selatan bahkan memuji detail-detail kecil dalam film yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia namun tetap terasa modern.
Visinema Animation tampaknya sangat serius dalam menggarap proyek ini. Proses produksinya yang memakan waktu cukup lama terbayar lunas dengan pengakuan internasional ini. Keberhasilan di pasar Korea Selatan diharapkan menjadi pintu pembuka bagi Jumbo untuk merambah pasar negara lain, seperti Jepang, China, hingga Amerika Serikat.
Dampak Besar bagi Industri Film Indonesia
Kesuksesan Jumbo di luar negeri memberikan dampak psikologis yang positif bagi para animator muda di Indonesia. Ini adalah bukti nyata bahwa mimpi untuk membawa karya lokal ke kancah global bukanlah hal yang mustahil. Jika selama ini Indonesia lebih dikenal melalui film-film genre horor dan aksi di kancah internasional, Jumbo membuka jalan baru bagi genre animasi.
Selain itu, kemenangan di tangga Box Office Korea Selatan ini secara otomatis meningkatkan nilai tawar film Indonesia di mata distributor internasional. Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat kreatif yang patut diperhitungkan di kawasan Asia. Momentum ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan untuk terus mendukung ekosistem perfilman nasional.
Sambutan Hangat dari Penonton Global
Di media sosial, tagar terkait film Jumbo sempat menjadi perbincangan di kalangan pecinta film di Seoul dan Busan. Banyak penonton memberikan ulasan positif mengenai bagaimana film ini mampu membuat mereka tertawa sekaligus terharu. Testimoni dari mulut ke mulut (word of mouth) inilah yang menjadi motor penggerak utama Jumbo bisa menyalip posisi Sentimental Value.
Keberhasilan ini juga melengkapi daftar panjang prestasi film Indonesia di tahun 2026. Dengan semakin banyaknya karya berkualitas yang lahir, masa depan sinema Indonesia di panggung dunia terlihat semakin cerah. Jumbo telah membuktikan bahwa dengan cerita yang tulus dan eksekusi yang mumpuni, bahasa bukan lagi menjadi penghalang untuk menyentuh hati penonton di mana pun mereka berada.
Akankah Jumbo terus bertahan di puncak klasemen Box Office Korea pada pekan-pekan mendatang? Melihat tren positif yang ada, peluang tersebut sangat terbuka lebar. Mari kita nantikan pencapaian hebat selanjutnya dari pahlawan animasi kebanggaan Indonesia ini.