LOKERSEMARANG.CO.ID – Dalam mengarungi kehidupan yang penuh dinamika, fondasi spiritual yang kokoh menjadi kebutuhan primer bagi setiap insan. Bagi seorang muslim, menjaga kemurnian keyakinan bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan kebutuhan eksistensial.
Kitab Tijan ad-Daruri karya Syekh Nawawi al-Bantani hadir sebagai panduan aplikatif dalam memahami cara-cara penguatan tauhid di tengah gempuran pemikiran modern yang sering kali mengaburkan batas antara kebenaran dan keraguan.
Memahami Esensi Ketuhanan dalam Tijan ad-Daruri
Kitab ini secara spesifik mengupas tuntas sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah serta para Rasul. Langkah awal dalam cara-cara penguatan tauhid adalah dengan mengenal (makrifat) siapa yang kita sembah secara mendalam.
Tanpa pemahaman sifat-sifat dasar seperti Wujud, Qidam, dan Baqa, iman seseorang akan mudah terombang-ambing oleh logika filsafat yang skeptis. Seorang muslim yang memahami bahwa Allah berdiri sendiri (Qiyamuhu Binafsihi) tidak akan menggantungkan harapan berlebih kepada makhluk. Ketauhidan yang kuat lahir dari kesadaran bahwa segala sesuatu di alam semesta bergerak atas izin-Nya. Pemahaman teologis ini menjadi perisai pertama dalam menjaga kemurnian tauhid dari infiltrasi syirik yang halus.
Cara Pandangan Seorang Muslim terhadap Goyahnya Tauhid
Di era digital, tantangan terhadap akidah sering kali muncul dalam bentuk gaya hidup dan pola pikir materialistik. Bagaimana cara pandangan seorang muslim terhadap goyahnya tauhid saat menghadapi cobaan? Kitab Tijan ad-Daruri mengajarkan bahwa keraguan adalah penyakit hati yang harus segera diobati dengan ilmu dan zikir.
Goyahnya iman sering kali dipicu oleh ketidaktahuan (jahl) terhadap hakikat ketuhanan. Ketika seorang muslim mulai merasa Tuhan tidak adil atau merasa kekuatannya sendiri lebih dominan, di situlah letak keretakan akidah. Solusinya adalah kembali membedah sifat Wahdaniyah (Keesaan) Allah untuk menyadari bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mengatur nasib manusia.
Implementasi Sifat Rasul dalam Memperkokoh Iman
Selain memahami sifat Tuhan, cara-cara penguatan tauhid juga melibatkan peneladanan sifat-sifat para Rasul. Kejujuran (Siddiq) dan kecerdasan (Fathanah) dalam beragama membantu kita memilah mana informasi yang mendekatkan diri pada Allah dan mana yang menjauhkan. Keteguhan dalam memegang prinsip kebenaran adalah manifestasi nyata dari tauhid yang telah menghujam di sanubari.
Logika yang dibangun dalam kitab klasik ini mendorong setiap muslim untuk selalu kritis terhadap bisikan hati yang meragukan kuasa Ilahi. Dengan menempatkan akal sebagai pelayan wahyu, integritas spiritual akan tetap terjaga meski lingkungan sekitar tidak lagi mendukung nilai-nilai religiusitas.
Menjaga Konsistensi Akidah di Era Modern
Puncak dari penguatan keyakinan ini adalah konsistensi atau istikamah. Seorang muslim harus menyadari bahwa tauhid bukanlah status statis, melainkan kondisi dinamis yang perlu dirawat dengan ibadah rutin dan pengajian ilmu kalam. Membaca kembali kitab kuning seperti Tijan ad-Daruri memberikan perspektif tradisional yang tetap relevan untuk menjawab keresahan spiritual milenial.
Kesadaran akan pengawasan Allah (Muraqabah) yang bersumber dari penguatan akidah akan melahirkan ketenangan batin. Pada akhirnya, cara-cara penguatan tauhid yang sistematis akan mengubah cara pandang seseorang dalam melihat setiap masalah sebagai bentuk ujian kasih sayang Sang Pencipta, bukan sebagai beban yang mematikan iman.